Wisata Virtual Cara Menyiasati Bagi Anda Yang Ingin Liburan di Tengah Pandemi

Melalui media teknologi digital telah membawa masyarakat kepada rutinitas dan cara hidup yang baru dengan hadirnya wisata virtual.

Pandemi Covid-19 menjadikan sektor pariwisata lesu karena akses perjalanan terbatas dan masyarakat diminta beraktivitas di dalam rumah. Namun, kini muncul tren baru yaitu wisata virtual.

Pasangan suami istri Ferry dan Selvy yang selama ini gemar melancong termasuk wisatawan virtual. Mereka tak perlu harus repot memesan tiket transportasi dan akomodasi penginapan.

Bermodal komputer atau laptop yang terhubung dengan internet serta mengunduh aplikasi Zoom mereka memuaskan hasrat untuk berpetualang.

Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Jumat (15/5/2020), wisata virtual ini ada yang gratis alias tak berbayar, ada pula yang berbayar.

Destinasi pilihan di dalam atau luar negeri. Biayanya pun sangat terjangkau, tak lebih dari Rp25.000 per orang. Wisatawan virtual akan merasakan sensasi unik berwisata ke objek-objek tertentu yang ditetapkan operator pariwisata, meski hanya melihat dari visual di layar komputer atau laptop.

Pasangan Fery-Selvy misalnya mendaftar untuk menikmati tur virtual ke Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur menggunakan jasa salah satu operator pariwisata yang membuka layanan tur virtual di laman mereka.

Mereka ikut wisata virtual pada 8 Mei 2020 pukul 15.30 WIB hingga 17.30 WIB. Pada waktu yang ditentukan itu, para peserta tur wajib standby di akun Zoom masing-masing untuk kemudian diajak berselancar bersama-sama mengunjungi seluruh objek wisata yang ditawarkan di paket tur virtual ke Pulau Sumba.

Diminati Ratusan Orang

Paket ini diminati juga oleh 110 orang yang juga ingin merasakan sensasi tur virtual Pulau Sumba pada waktu yang sama.

Jika tur ini dijalani di kehidupan nyata, diperlukan waktu 3 hari 2 malam untuk menjelajahinya mengingat begitu banyaknya wisata alam dan budaya serta desa adat yang bakal dikunjungi.

Ada wisata menjelajah kawasan perbukitan Warinding di Kota Waingapu dengan hamparan rumput hijau dan coklat serta tak sulit didaki karena ketinggiannya tak lebih dari 80 meter di atas permukaan laut.

Belum lagi air terjun Wai Marang, laguna Weekuri yang berair biru jernih dan berkadar garam tinggi sehingga kita tidak akan tenggelam saat berenang.

Ada pula Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan Desa Adat Ratenggaro yang pernah dikunjungi legenda sepak bola Inggris David Beckham bersama keluarganya pada Agustus 2018.

Untuk membuat tur virtual, setiap operator wajib menguasai teknologi informasi. Karena hampir 90 persen aktivitas tur ini memanfaatkan teknologi digital agar peserta merasa sedang benar-benar berada di lokasi tujuan wisata.

Mulai dari pemanfaatan aplikasi kamera 360 derajat untuk menghasilkan gambar statis dari suatu obyek yang mampu digerakkan ke segala arah.

Hal ini akan membuat kita seolah-olah seperti sedang berada di lokasi tersebut. Ditambah pula dengan dokumentasi video dari lokasi yang dituju agar nuansa berwisata makin terasa.

Selain itu para operator juga memanfaatkan aplikasi peta digital Google Maps dan Google Street View supaya makin menghidupkan suasana tur.

Tetap Ada Tour Guide

Agar mirip dengan sebuah perjalanan wisata, setiap operator tak lupa melengkapinya dengan pemandu wisata (tour guide) profesional yang akan menjelaskan segala hal terkait lokasi wisata yang dituju.

Dalam perjalanan wisata virtual menjelajah Pulau Sumba, misalnya, operator wisata telah menunjuk Marthen Bira, Kepala Desa Tebara sebagai pemandu wisata virtual.

Dia seperti lazimnya pemandu wisata, akan bercerita mengenai lokasi wisata yang dituju oleh grup wisata yang dipandu. Tentu saja semua dilakukan secara virtual dengan bantuan video dan foto dari lokasi wisata dimaksud.

Hadirnya wisata virtual dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital pada masa pandemi corona merupakan sebuah peluang baru bagi para pegiat dan operator wisata.

“Dengan kita tidak bisa ke mana-mana bukan berarti kita tidak bisa menjadikan pariwisata sebagai gaya hidup kita. Keterbatasan ini tidak bisa membuat kita diam. Kegiatan wisata virtual membuka peluang baru di era new normal,” kata Kepala Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Agustini Rahayu.

Menurut Agustini, melalui media teknologi digital telah membawa masyarakat kepada rutinitas dan cara hidup yang baru dengan hadirnya wisata virtual.

Kendati demikian, diakui Agustini wisata virtual tidak dapat menggantikan pengalaman ketika berwisata langsung ke lokasi sesungguhnya.

Peluang Baru

Kemenparekraf sendiri belum lama ini telah mengadakan wisata virtual mengunjungi delapan kedai kopi bersejarah dan unik di Jakarta bersama komunitas wisata Jakarta Good Guide (JGG).

Wisata virtual berdurasi dua jam ini dipandu oleh spesialis kopi Cindy Tan mengunjungi Kedai Kopi Es Tak Kie, Bakoel Koffe, Toko Kopi Warung Tinggi, Toko Kopi Sedap Jaya Jatinegara, Toko Kopi Luwak Gondangdia, Phoenam, Kwang Koan Kopi Johny, dan Kopi Djie Coffee.

Pendiri JGG Candha Adwitiyo mengatakan wisata virtual bertema kopi bersama Kemenparekraf dilakukan untuk mengenalkan riwayat kopi dan toko penjualannya di tanah Betawi dengan beragam cerita dan sejarahnya.

Platform wisata digital Atourin pun melihat peluang tur wisata maya ini dengan membuka kegiatan pelatihan pramuwisata khusus untuk wisata virtual. Terlebih ketika industri pariwisata makin lesu dihantam pandemi corona akibat terbatasnya ruang gerak turis untuk mengunjungi sebuah obyek wisata.

Atourin merupakan satu dari beberapa operator wisata yang menggelar tur virtual mengunjungi obyek wisata nusantara, termasuk tur virtual ke Pulau Sumba dan Natuna.

Ada pula operator wisata Kawisata yang telah sukses menggelar tur virtual ke Lawang Sewu di Kota Semarang dan mengelilingi Kota Yogyakarta serta kawasan ikonis Malioboro.

Menurut Direktur Utama Kawisata Totok Suryono, lebih dari 100 peserta mengikuti tur virtual keliling Kota Gudeg hanya dengan membayar Rp25.000 per peserta. Biaya itu termasuk mendapatkan sekotak bakpia, camilan khas Yogyakarta.

Tags from the story
Written By
More from travelife

Restoran Khas California Hadir di Bali

Siapa yang tak tahu California? California merupakan salah satu negara bagian di...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *