Perekonomian Bali Bagaikan Telor di Ujung Tanduk

Oleh I Gusti Bagus Rai Utama

Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara. Jika ada sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata, misalnya, sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat berisiko. Ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional, dan sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata. Kita tentu masih ingat, ketika Bali mengalami tragedi bom, perekonomian kita nyaris tak berjalan normal akibat kita terlalu mengandalkan industri pariwisata. Mestinya kita memiliki industri alternatif lainnya seperti pertanian, perikanan, atau sektor lainnya.

Dalam kondisi tertentu, perekonomian sebuah negara kepulauan kecil dapat dikatakan berisiko jika mereka menggantungkan diri pada satu sektor tertentu melebihi 10% dari total keseluruhan perekonomiannya. Berisiko dalam pengertian jika terjadi krisis atau kelesuan pada sektor tersebut, konsekuensi logisnya adalah akan terjadi kelesuan terhadap perekonomian keseluruhan. Idealnya, terjadinya sebaran merata atas sembilan sektor yang biasa diukur dalam pengukuran PDRB yakni sektor pertanian cs, pertambangan cs, industri pengolahan cs, energy cs, bangunan cs, perdagangan (pariwisata) cs, pengangkutan cs, keuangan cs, dan jasa-jasa.

Coba kita bandingkan dua sektor yang dominan pada perekonomian Bali. Sektor pertanian cs mengalami penurunan secara rata-rata sebesar 0,5%, sementara sektor pariwisata (perdagangan, hotel, dan restoran) mengalami peningkatan 0,5% setiap tahunnya terhadap total PDRB Bali. Jika trend penurunan peran pertanian dan peningkatan peran pariwisata terhadap PDRB tidak dicermati dan diantisipasi dengan baik, maka sangat dimungkinkan pada suatu saat nanti kita akan kehilangan kemandirian sebagai sebuah masyarakat. Sebab Bali akan terlalu tergantung pada pariwisata, sementara modal kedaulatan mandiri, yakni sektor pertanian, perannya semakin lemah.

Meski bukan lagi menjadi sektor yang paling dominan dalam membentuk ekonomi Bali, namun peranan pertanian dalam kesejahteraan penduduk Bali masih dapat dikatakan dominan. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa sebagian besar pekerja di Bali masih mengandalkan pertanian sebagai sumber mata pencarian. Untuk itu, Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan salah satu indikator dalam melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di daerah pedesaan, menjadi indikator penting untuk diperhatikan.

Melihat kondisi di atas, sangat diperlukan adanya rasionalisasi oleh pemerintah terhadap kedua sektor tersebut yakni dengan melakukan pembatasan dan selektif terhadap pembangunan pariwisata. Infrastruktur dan sektor pendukung pariwisata yang terlanjur ada sebaiknya dapat ditingkatkan kualitasnya dengan berbagai program semisal standardisasi dan sertifikasi sembari melakukan pemasaran destinasi yang selektif yang memungkinkan mendatangkan wisatawan yang berkualitas pro pariwisata yang bertanggungjawab.

Pemerintah juga harus mulai memandang secara serius sektor pertanian cs karena bagaimanapun sektor ini masih menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat Bali. Sektor pertanian harus segera diberdayakan sebagai sebuah sambutan serius atas ditetapkannya sistem subak sebagai World Cultural Heritage. Harusnya pembangunan pariwisata diarahkan pada pengembangan pariwisata pro rakyat semisal desa wisata, agrowisata, dan sejenisnya yang dikelola secara serius sehingga masyarakat desa benar-benar dapat diberdayakan.

Majalah Time, Amerika Serikat, dalam edisi 11 Juli 2011, menurunkan sebuah laporan yang sangat menarik mengenai kecenderungan yang sekarang berlangsung di Amerika Serikat mengenai pertanian. Pada sebuah artikel berjudul “Want to Make More than a Banker? Become a Farmer!”, penulisnya melaporkan bahwa di Amerika Serikat saat ini mulai timbul kesadaran bahwa menjadi petani adalah pekerjaan paling bagus pada abad ke-21. Penghasilan petani meningkat tajam karena kenaikan harga pangan. Pada saat ekonomi secara keseluruhan hanya tumbuh pada laju 1,9%, penghasilan dari bidang pertanian telah meningkat sebesar 27% tahun sebelumnya dan diramalkan akan meningkat lagi sebesar 20% pada tahun berikutnya. Artinya, laporan tersebut dapat menjadi gambaran bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun tidak rela mengabaikan sektor pertanian karena begitu besar peran sektor itu terhadap eksistensi dari sebuah negara.

Coba kita beranalogi sebagai berikut: Jikalau tidak ada kunjungan wisatawan ke Bali dan jika kita memiliki cadangan pangan yang cukup untuk masyarakat kita, pastinya perekonomian Bali masih tetap bertahan. Namun akan terjadi hal sebaliknya jika kita tidak memiliki cadangan pangan yang cukup.

Tantangan yang harus dihadapi Bali adalah membuat pertanian menjadi ladang investasi dan jaminan masa depan yang menarik. Harus diakui tantangan itu cukup berat. Persoalannya cukup kompleks, meskipun banyak di antaranya lebih disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang setengah hati, misalnya kebijakan impor produk pertanian yang bersaing langsung dengan produk lokal, mau tidak mau kita harus menghasilkan produk yang berkualitas.

Sebuah ironi bahwa sekarang ini lebih mudah untuk menemukan apel Washington, jeruk dari Tiongkok, beras dari Vietnam, dan barang impor lain di pasar. Terlanjur berubahnya perilaku masyarakat Bali ke arah masyarakat konsumtif juga menjadi tantangan yang amat berat untuk diatasi.

Konsep sebagus Swadesi mesti kembali dipropagandakan untuk menuju masyarakat yang mandiri atas kekuatan kelokalan yang senyatanya. Jika tanah kita hanya menghasilkan jeruk masam kenapa kita harus mempertontonkan jeruk manis yang bukan produksi kita sendiri? Perlu keragaman sektor perekonomian sehingga perekonomian Bali tidak terlalu berisiko, perlu kerja keras semua stakeholder pembangunan Bali untuk mewujudkan kemandirian perekonomian Bali ke depan.

Penulis adalah Rektor Universitas Dhyana Pura.

Tags from the story
,
Written By
More from travelife

Berkunjung ke Petitenget Festival

Mangupura – Kawasan Petitenget, Kerobokan, Badung, Bali mulanya dianggap sebagai tempat angker....
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *