Pemuda Menebar Asa, Membangun Pariwisata dari Desa

I Gusti Ngurah Agung Mahajaya

Albert Einstein, tokoh saintis termashyur di jagat ini pernah berkata, “Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value”. Hal itu mengisyaratkan bahwa dalam kehidupan hendaknya manusia tidak berambisi menjadi orang sukses, melainkan menjadi orang yang bernilai, yaitu bermanfaat bagi sesama.

Pemikiran tersebut mendapatkan relevansinya di era sekarang yang telah diimplementasikan oleh tokoh muda visioner bernama I Gusti Ngurah Agung Mahajaya. Kepulangannya ke tanah kelahiran setelah menamatkan studi di luar negeri, dilanjutkan dengan mewujudkan visi membangun kampung halaman. Di desa asalnya ia berusaha memotivasi anak muda di sana untuk berani membangun mimpi agar mau bersama-sama membangun ekonomi lewat sektor pariwisata.
Kisah anak muda yang berupaya menebar asa di kalangan generasi muda sebayanya agar mau memiliki kemauan untuk maju agaknya jarang terdengar di era serba kompetitif seperti sekarang. Justru di saat banyak orang berlomba-lomba menggapai pencapaian materi maupun kekuasaan, anak muda ini justru mengajak rekan-rekan seusianya untuk menggapai mimpi bersama.

Memacu Geliat Pariwisata
Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, dulunya seperti desa di Bali pada umumnya dengan pola masyarakat yang masih tradisional. Kegiatan pertanian merupakan usaha penopang perekonomian desa. Di desa tempat keluarganya berakar inilah, Agung Mahajaya melihat adanya kesenjangan antara potensi daerah dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada untuk mengolah potensi itu. Potensi daerah yang dimaksud adalah potensi sebagai desa wisata, karena karakteristik alam yang indah serta dekat dengan berbagai objek wisata lain.


Lantas, mengapa pariwisata?
Hal ini ada keterkaitan dengan histori keluarga Agung Mahajaya. Kakeknya sendiri merupakan salah satu tokoh di balik perkembangan pariwisata Ubud di era 60-an. Sang kakek membangun bisnis pariwisata, khususnya di bidang tour guiding dan akomodasi. Ubud Inn menjadi homestay pertama di kawasan wisata Ubud yang dirintis warga lokal, merupakan usaha yang dimiliki oleh kakek Agung Mahajaya.
Melihat perkembangan bisnis akomodasi di Ubud yang sangat pesat, kakeknya lalu memberanikan diri berekspansi dengan membangun hotel di daerah lain. Masih di kawasan Gianyar, yaitu di Tegallalang yang juga merupakan kampung halaman keluarga Agung Mahajaya. Setelah berjalan beberapa tahun, berbagai tantangan menerpa usaha hotel di Tegallalang tersebut. Peristiwa paling menghantam pariwisata Bali secara keseluruhan, yakni Bom Bali III, ikut merobohkan bisnis kakeknya tersebut. Di antara dua hotel yang ada, hanya Ubud Inn yang mampu bertahan.
Namun pada tahun 2009, tatkala kepulangan Agung Mahajaya ke Bali setelah merampungkan pendidikan Magister di Inggris, ia bertekad ingin membangun kembali puing-puing usaha kakeknya yang sempat terbengkalai selama bertahun-tahun. Keputusannya melanjutkan kembali bisnis akomodasi di Tegallalang itu juga merupakan bagian dari visi besarnya memacu geliat pariwisata di daerah tersebut.


“Saya memulainya dengan membangun hotel di sini, dengan harapan akan mendatangkan wisatawan lebih banyak ke desa ini. Tentunya saat mereka datang ke sini, harus dipersiapkan pula infrastruktur memadai serta atraksi wisata menarik lainnya. Seiring munculnya permintaan, dengan sendirinya masyarakat sadar untuk mengembangkan produk dan jasa yang mereka miliki agar dapat memenuhi permintaan yang ada,” ujar lulusan jurusan International Develompment tersebut.


Pada tahun 2010, hotel peninggalan Sang Kakek kembali dibangun. Selanjutnya adalah soal mencari tenaga kerja yang akan membantu operasional usaha. Persoalan ini sudah menjadi concern Agung Mahajaya sejak awal. Ia berencana merekrut SDM muda yang ada di lingkungan Kedisan, meskipun dari segi latar belakang dan pengalaman kerja, tidak dimiliki oleh mereka. Namun keputusannya itu cukup beralasan, lantaran ia ingin mengajak anak-anak muda di desanya untuk mau meninggalkan kebiasaan buruk seperti kumpul-kumpul minum minuman beralkohol. Selain tidak mendatangkan manfaat kegiatan itu ditakutkan akan meningkatkan potensi kriminalitas di desa tersebut.
Agung Mahajaya tidak sekedar memperkerjakan anak-anak muda di desanya. Ia juga mengadakan pelatihan bagi para pemuda yang termotivasi untuk maju. Kegiatan itu dilakukan pada petang hari di saat para tamu hotel sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Agung Mahajaya melatih kemampuan berbahasa Inggris serta memperkenalkan wawasan hospitality.


Perjuangan Agung Mahajaya selama lima tahun akhirnya tidak sia-sia. Terbukti SDM yang ia rekrut tidak pernah meninggalkan kesan negatif kepada para tamu. Meskipun tidak mengantongi pendidikan formal pariwisata, mereka tetap menunjukkan keahlian dan kecakapan kerja secara profesional. Plus dibarengi keramahtamahan khas masyarakat Pulau Dewata, membuat para tamu semakin puas dengan pelayanan hotel milik Agung Mahajaya tersebut.


Efek positif yang muncul dari kegiatan usaha yang dirintisnya itu juga berimbas pada pandangan warga lokal yang sadar bahwa desa mereka ternyata memiliki daya tarik pariwisata. Kebanggaan inilah yang kemudian memotivasi pengusaha lokal lainnya untuk ikut berkontribusi membangun usaha di sektor pariwisata di tanah kelahiran sendiri.

Honai Resort and Spa Ubud
Pada tahun 2015, Agung Mahajaya bekerja sama dengan perusahaan manajemen hospitality untuk mengembangkan hotelnya. Setelah itu ia praktis tidak terlibat langsung dalam manajemen hotel. Pada tahun 2017, ia memutuskan mendirikan satu usaha lagi, masih di bidang perhotelan. Kali ini ia membangun sebuah resort di Ubud. Uniknya, akomodasi mewah bernama Honai Resort and Spa Ubud ini mengadopsi gaya arsitektur khas Indonesia Timur.


“Saya sering mendapat pertanyaan, kenapa tidak mengusung gaya arsitektur khas Bali yang orisinil saja. Lalu saya akan balik bertanya, Bali yang orisinil itu seperti apa. Jika kita berbicara mengenai Bali, kita harus tahu dulu sejarah Bali seperti apa. Bila ditarik secara historis, budaya Bali yang sekarang kita kenal mendapat pengaruh dari berbagai unsur budaya, seperti budaya dari Cina, India, dan Animisme,” tutur Agung Mahajaya.

Ia memaparkan bahwa pemerintah Belanda di jaman kolonial pernah menyebut Bali sebagai museum hidup. Meskipun terlihat masyarakat Bali mengaut sistem kepercayaan Hindu dari India, namun Hindu yang berkembang di Bali juga berakulturasi dengan budaya Cina. Hal ini dibuktikan dengan pola kepercayaan masyarakat di Bali yang masih menghaturkan bakti kepada para leluhur. Selain itu kepercayaan animisme tetap bertahan dan dilanjutkan dengan ritual menghaturkan sesaji di tempat berbatu maupun pohon.


Mengembangkan akomodasi yang terinspirasi dari gaya hunian di daerah Papua, Agung Mahajaya ingin menunjukkan bahwa Bali juga merupakan rumah bagi khazanah budaya nusantara. Masyarakat yang heterogen mampu hidup secara berdampingan di Bali lewat wujud sikap toleransi dan tenggang rasa. Alasan lainnya mengapa memilih gaya arsitektur khas Indonesia Timur sebab ia sendiri bertumbuh di kawasan tersebut.
Ayah Agung Mahajaya terlahir di keluarga keturunan wangsa ksatria. Meskipun tinggal di lingkungan desa, ayahnya tersebut memiliki visi untuk maju lewat akses pendidikan. Setelah menamatkan SMA, ayahnya tersebut melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya, kemudian bekerja di salah satu BUMN. Karena ditugaskan bekerja ke daerah Nusa Tenggara Timur, Agung Mahajaya yang baru berusia 42 hari langsung diboyong keluarganya ikut Sang Ayah ke perantauan.


Di mata Agung Mahajaya, sosok ayahnya merupakan pribadi yang disiplin, visioner, tidak feodal, cerdas, serta memiliki pemikiran yang terbuka. Hal itu menjadikan Agung Mahajaya sangat menghormati Sang Ayah sekaligus memiliki kawan bertukar pikiran. Sementara sosok ibunda tercinta merupakan perempuan yang menginspirasi kehidupannya saat ini. Sebab Sang Ibu telah menunjukkan pengabdiannya dengan membesarkan buah hati di daerah pelosok dan jauh dari keluarga. Kini ibunya juga tidak kalah aktif darinya dalam hal tampil di berbagai organisasi.


Semangat untuk mengakses pendidikan setinggi-tingginya juga mengalir dalam diri Agung Mahajaya. Dirinya yang telah menamatkan SMA di Jakarta, akhirnya meneruskan ke Universitas Gajah Mada di Yogyakarta pada jurusan Filsafat. Setelah itu, atas dukungan semangat dari kedua orang tua, ia pun memantapkan diri melanjutkan kembali ke Inggris. Pengalaman selama 1,5 tahun di negeri yang sangat asing inilah yang membuka cakrawalanya tentang dunia. Ia melihat modernisasi yang ada di Eropa, namun di saat yang sama tempat-tempat bernilai sejarah masih tetap dipertahankan.

Budaya Bali Tetap Eksis
Sepulangnya ke Bali, Agung Mahajaya juga melihat adanya perubahan masyarakat Bali. Dahulu kehidupan masyarakat masih bersifat agraris kini beralih ke industrial. Pola perubahan ini terjadi karena adanya modernisasi dan globalisasi yang masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat. Namun, apakah perubahan ini nantinya akan menggerus eksistensi budaya lokal?

“Miguel Covarrubias dalam bukunya ‘The Island of Bali’ pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Apakah di masa depan, masyarakat Bali akan masih setia mempertahankan tradisi dan budaya mereka seiring dengan dinamika global? Menurut saya, orang Bali akan terus menjaga eksistensi budaya mereka. Perubahan pasti terjadi, tapi yang berubah hanyalah lifestyle saja,” kata pria yang dikukuhkan sebagai Local President Junior Chamber International (JCI) Ubud 2020 itu.


Jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat Bali di era agraria, menurutnya justru euforia ritual dan ceremony lebih gempita di jaman sekarang. Kakeknya pernah bercerita bahwa orang Bali di masanya menghaturkan sesaji paling tidak hanya 15 hari sekali. Itu pun dengan sesaji dalam rupa yang sederhana. Sedangkan sekarang, aneka rupa upacara kerap digelar bahkan dengan biaya yang terbilang besar.
Banyaknya kegiatan berunsur budaya dan spiritualisme yang diadakan di Bali, tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan. Memang harus disadari bahwa mereka datang ke Bali, semata-mata karena keunikan kultur masyarakat di Pulau Dewata. Karena itu, sebagai pemucuk pimpinan organisasi JCI, Agung Mahajaya berencana menggelar lebih banyak event di desa-desa. Event tersebut berkolaborasi dengan masyarakat setempat dengan tujuan mendatangkan lebih banyak wisatawan ke desa tempat event itu diselenggarakan.

“Salah satu event yang sukses kami gelar adalah pada Februari 2019 lalu, di mana kami menyelenggarakannya di Sayan. Acara yang mengajak kontribusi dari masyarakat lokal tersebut sukses mendatangkan 4500 wisatawan,” kenangnya.


Selain fokus pada upaya pemberdayaan masyarakat guna ikut memajukan desa mereka menjadi desa wisata, ke depannya Agung Mahajaya juga ingin memperbanyak kegiatan yang melibatkan anak SMA. Jenjang pendidikan ini menjadi target kegiatan pelatihan berorganisasi, sebab menurutnya masa SMA adalah masa yang tepat untuk membentuk karakter diri. Diharapkan nantinya anak-anak pada tingkat pendidikan ini dapat memiliki jiwa kepemimpinan dan organisasi yang matang.


“Pelatihan ini nantinya akan bermuara pada tugas yang akan diberikan kepada mereka, yaitu merancang suatu event agar dapat terselenggara dengan baik,” kata Agung menambahkan.


Di tengah-tengah kesibukannya sebagai entrepreneur muda lokal sekaligus pimpinan suatu organisasi, Agung Mahajaya juga tengah merampungkan rencananya bersama-sama Sang Ayah, yaitu membangun sebuah klinik. Fasilitas kesehatan untuk masyarakat ini didirikan di daerah Mas, Ubud. Bila Sang Maha kuasa mengizinkan, ke depannya Agung Mahajaya ingin membuat sekolah yang nantinya dapat mencetak tokoh-tokoh visioner lainnya serta mampu memiliki kepedulian untuk membantu masyarakat.

Tags from the story
, ,
Written By
More from travelife

Wajah Baru Patung GWK

Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) tuntas dibikin di Bali. Traveler yang berlibur...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *