Made Sidartha Arya – Kembangkan Sustainable Accomodation

Konsistensi adalah kunci keberhasilan dari sebuah usaha yang mampu berdiri selama puluhan tahun lamanya. Konsisten dalam hal mempertahankan kualitas produk maupun konsisten dalam hal berbenah diri. Hal itulah yang dibuktikan oleh Made Sidartha “Peter” Arya. Seorang pengusaha asal Bali yang berhasil merajai industri hospitality di Pulau Dewata. Di balik eksistensi Legian Beach Hotel serta beberapa akomodasi ternama lainnya ini mengaku giat mengembangkan inovasi dan tiada henti melakukan pembenahan.

Made Sidartha Arya merupakan contoh ideal seorang penerus  usaha yang berhasil. Generasi kedua bisnis Legian Beach hotel ini adalah putra dari pebisnis kawakan bernama Arya Mastemadja. Sidartha Arya menerima tongkat estafet usaha tersebut kemudian mampu menunjukkan keberhasilannya. Lewat tangan dinginnya, Sidartha Arya berhasil mengembangkan Legian Beach Hotel dari kapasitas 135 kamar hingga menjadi hotel bertaraf bintang empat berkapasitas 218 kamar.

Meski pun mengharapkan agar Sidartha Arya agar mau melanjutkan bisnis akomodasi, Sang Ayah memberikan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Terutama soal memilih minat di bidang akademik. Sidartha Arya muda telah menunjukkan bakat dan minatnya di bidang elektronika. Sejak SMA. Pria kelahiran Singaraja, 20 Juli 1956 ini gemar mempelajari segala hal yang berhubungan dengan elektronika yang erat kaitannya dengan teknologi.

Demi memuaskan dahaga terhadap bidang keilmuan sains dan teknologi, Sidartha Arya hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi khusus pada jurusan elektronik. Di masa itu, tepatnya tahun 1975, bidang ilmu yang ditujunya itu terbilang langka. Salah satu solusi dari permasalahannya itu adalah mencari ilmu di universitas yang ada di luar Indonesia. Akhirnya Kota Sidney, Australia, menjadi tujuannya untuk menimba ilmu. Untungnya ia memiliki orangtua yang mau mendukung cita-citanya, sehingga ia pun mengantongi ijin untuk sekolah ke luar negeri.

Pengalaman

Tibalah pada masa-masa merantau bagi seorang Sidartha Arya. Jauh dari sanak keluarga tercinta memang menjadi salah satu resiko yang mesti dihadapinya, namun bukan Sidartha Arya namanya bila tidak mampu menghadapi tantangan di depan mata. Terbukti ia dapat mudah beradaptasi dengan kultur masyarakat di sana dalam waktu relatif singkat.

Tahun pertama di Sidney ia habiskan dengan mengikuti pendidikan setingkat SMA. Hal itu ia lakukan meski sudah lulus SMA di Indonesia dengan tujuan demi bisa memantapkan kemampuan berbahasa Inggris. Setelah itu barulah ia resmi menjadi mahasiswa University of New South Wales, Sidney, Australia. Ia mengambil jurusan ilmu komputer sekaligus memperdalam ilmu elektrikal di universitas yang sama.

Beragam pengalaman didapatkan Sidartha Arya selama menjadi mahasiswa WNI di Negeri Kangguru. Agar mampu bertahan dalam kehidupan sosial di sana ia pun segera menjalin relasi pertemanan baik itu dengan sesama WNI maupun masyarakat lokal. Di sinilah, Sidartha Arya mendapatkan nama panggilan terbarunya dan di masa depan nama ini akan menjadi sebuah nama yang populer. Teman-temannya sangat sulit melafalkan nama Made Sidartha sehingga mereka pun memberi julukan “Peter” padanya. Hal ini mempermudah para rekannya untuk memanggil namanya dalam keseharian.

Pada tahun 1979, Sidartha Arya atau lebih akrab disapa Peter Arya telah berhasil menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Kemudian ia diterima bekerja di Comonwealth Scientific and Industrial Reasearch Organisation (CSIRO) pada bidang VSLI Program. CSIRO ini merupakan wadah bentukan pemerintah Australia yang berfokus pada transfer teknologi dari Amerika ke Australia.

Tiga tahun kemudian Peter Arya berhasil menyelesaikan program kerjanya, kemudian bergabung pada perusahaan Austec Microsystem. Pada tahun yang sama pula, Peter Arya berhasil mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting perempuan cantik bernama Nirmalawati. Gadis asal Indonesia tersebut dikenalnya saat sama-sama merantau di Australia. Pernikahan mereka akhirnya membuahkan tiga orang anak sehingga makin melengkapi kebahagiaan pasangan tersebut.

Kembali ke Tanah Air

Setelah 11 tahun tinggal di Australia dan jauh dari keluarganya, Peter Arya pun memutuskan resign di perusahaan tempat kerjanya agar bisa pulang dan menetap di tanah air. Sesampainya di Bali, Peter Arya dihadapkan pada tanggung jawab pengelolaan Legian Beach Hotel. Meski tidak memiliki pengalaman di industri hospitality, namun Peter Arya telah berkomitmen hendak mengelola secara penuh usaha yang telah dititipkan oleh ayahnya tersebut.

Renovasi secara bertahap dilakukan Peter Arya demi memperbaiki kualitas hotel yang dikelolanya itu. Ia percaya perubahan sekecil apapun asal mengarah pada hal positif tentu akan membawa kebaikan pada usahanya. Ia menerima perubahan sebagai sesuatu yang kekal serta inovasi adalah suatu keharusan bila ingin terus eksis. Pembenahan yang dilakukan secara bertahap dan terarah ini kemudian tanpa terasa telah membawa Legian Beach Hotel pada kwalifikasi Hotel Bintang Empat. Meski telah berhasil mengembangkan bisnis tersebut Peter Arya tetap konsisten untuk mengevaluasi langkah yang telah diambilnya.

Setelah mampu menjaga stabilitas usaha Legian Beach Hotel, Peter Arya kemudian melakukan ekspansi usaha dengan mendirikan beberapa akomodasi. Ia mendirikan Candi Beach Cottage di Candi Dasa, Karangasem, pada tahun 1989. Kemudian di tahun 2000 ia berhasil mendirikan Maya Ubud Resort yang membuatnya semakin mantap di jajaran para tokoh pariwisata yang sukses di Bali.

Bisnis Berkelanjutan

Sebagai seorang insinyur sekaligus electrical sciense expert, Peter Arya tidak ingin meninggalkan keahliannya di bidang sains dan teknologi begitu saja. Ia masih tekun mengasah kreatifitasnya dengan mendedikasikan diri membuat beberapa sistem, seperti komputerisasi, kelistrikan, dan kontrol panel. Bahkan ia menggabungkan dua hal yang sedang ditekuninya itu yaitu teknologi dan industri hospitality dengan mengembangkan software pengelolaan hotel-hotel.

Selain itu, demi mewujudkan sebuah bisnis yang ramah ligkungan dan berkelanjutan, Peter Arya juga merancang desain pengelolaan limbah cair Sewage Treatment Plant (STP). Kinerjanya yaitu limbah cair yang berasal dari operasional hotel diarahkan pada sebuah wadah penampungan. Lalu di wadah tersebut limbah dari hotel diproses sedemikian rupa sehingga nantinya dapat digunakan kembali. Tenang saja, hasil olahan STP ini sudah memenuhi atau mengikuti standar peraturan pemerintah tentang batasan baku mutu limbah cair domestik komunal. Sistem ini pun telah diterapkan di hotel-hotel miliknya maupun hotel lainnya.

Written By
More from travelife

Mengenal Wine Lokal Bali

Lima perusahaan wine berdiri di Bali, dan kreasi mereka mulai menuai pengakuan...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *