I Made Ada – Sang Maestro Garuda Yang Mendunia

Setiap masa ada tokohnya dan setiap tokoh ada masanya. Tokoh-tokoh ini akan muncul pada momentum yang tepat dan setiap dari mereka akan mampu menjadi inspirasi dan penggerak bagi generasi di zamannya. Begitulah estafet perputaran dunia ini selalu memunculkan nama-nama cemerlang yang silih berganti menghiasi perputaran zaman.

Bila ditelisik di era kini, kita dapat menemukan sosok I Made Ada atau yang lebih dikenal sebagai Sang “Maestro Garuda” dengan karya yang telah mendunia. Julukan itu disematkan sebagai penghargaan untuk dedikasinya dalam pelestarian seni dan budaya Bali khususnya seni ukir patung. Dunia global pun melalui organisasi WIPO (World Intellectual Property Organization) di bawah perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan pengakuan atas kreativitas seni patung garudanya yang selama ini plakat tersebut diletakkannya di salah satu sudut museumnya.

Karya-karya fenomenal banyak lahir dari sosok pria kelahiran 18 Agustus 1948 ini. Namanya mulai dikenal ketika Presiden Soeharto berkunjung ke rumahnya dan membeli semua karyanya pada tahun 1981. Tak pelak patung Garuda hasil karyanya menghiasi berbagai sudut istana kepresidenan mulai dari istana Bogor, istana Tampak Siring, hingga sejumlah kantor kepresidenan di luar negeri. Beberapa Presiden Indonesia lainnya pun sempat berkunjung ke museumnya yang terletak di daerah Gianyar ini mulai dari presiden B.J Habibie, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan patung garuda dari desa Pakudui ini juga ada bercokol di salah satu museum di Rusia dan sampai saat ini ketika ada pertemuan kepala Negara atau kunjungan kenegaraan, karya-karyanya selalu menjadi pilihan sebagai cinderamata. Sebut saja Annual Meetings IMF-World Bank 2018 yang baru saja berlangsung di Nusa Dua. Pertemuan bergengsi itu merupakan agenda keuangan tahunan terbesar dunia. Seribu miniatur patung garuda buatannya disiapkan sebagai merchandise untuk delegasi Negara-negara peserta IMF yang semakin mengukuhkan namanya sebagai pematung garuda di mata internasional.

Maestro seni ukir asal Banjar Pakudui, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar ini mengungkapkan, karya-karyanya mampu mendunia tak terlepas sentuhan teologis dari filosofi Bali yang merepresentasikan nilai-nilai budaya orang Bali berlandaskan ajaran agama Hindu. Inilah yang menjadi kekuatan tak terpisahkan dan memunculkan spirit taksu yang menjiwai karyanya. Made Ada sendiri mempelajari ilmu mematung yang diwariskan secara turun-temurun dari ayahnya, I Nyoman Kampih ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar sekitar tahun 1966. Bermula dari sang kakek kemudian menurun ke orang tuanya dan kini dirinya merupakan generasi ke 3 di keluarganya yang konsisten menggarap kerajinan tangan dalam bentuk berbagai jenis patung bernafaskan Bali.

Dalam persepsi Made Ada yang dituangkan melalui seni patung Garuda, ukiran patung harus menggunakan bahan kayu terbaik agar mampu bertahan hingga beberapa generasi serta detail ornament pun dibuat  bervariatif untuk menambah kesan indah ketika patung-patung tersebut diletakkan  dalam ruang khusus sebagai elemen dekoratif  baik bangunan baik berupa kuil, pura, rumah bali, istana, ataupun menjadi artefak yang dipakai dalam upacara adat keagamaan. Karena seni ukir kayu harus memiliki nilai-nilai yang seimbang antara spiritual, religius, dan aspek-aspek yang bersifat komersial. Ketiga aspek inilah yang memberikan value lebih di hati, tak hanya bagi para seniman tapi juga di mata penikmatnya.

Mendirikan Museum

Kecintaannya terhadap seni ukir membuatnya terdorong untuk mendirikan sebuah Museum Patung Garuda yang diberi nama Ada Guna Museum diresmikan langsung oleh presiden ke 5 Republik Indonesia  Megawati Soekarnoputri di tahun 2002 silam sebagai upaya sepenuh hati membangun areal apresiasi bagi penikmat karya patung khususnya patung garuda. Di Ada Guna Museum, terdapat patung garuda setinggi lima meter yang membuat pengunjung terbengong-bengong . Bukan hanya soal ukuran, mereka juga takjub atas ‘kerumitan’ ukirannya itu.

Museum tersebut ia dedikasikan untuk mengingat perjalanan giat seni patung di Desa Pakraman Pakudui, yang memang identik dengan patung garuda sebagai ikon-nya. Dengan adanya museum itu ia berharap wilayahnya mampu menjadi sentra kerajinan patung garuda terbesar di Bali dengan harapan akan terus berkembang sebagai salah satu tujuan desa wisata garuda yang ramai dikunjungi turis mancanegara.

Apalagi kini di sepanjang kawasan Pakudui bisa dilihat berbagai ukuran patung garuda. Masyarakatnya sekitarnya juga telah menjadikan kegiatan mematung sebagai salah satu pendapatan utama mereka, sehingga tidak keliru jika dengan potensi yang dimiliki Desa Pakudui, Tegallalang, Gianyar ini kemudian disebut dengan Garuda Village.

Bahkan perbelekel Kedisan Dewa Ketut Raka mengatakan pencanangan Desa Wisata Garuda Village Pakudui sudah mampu berjalan dengan baik yang merupakan inisiatif masyarakat setempat salah satunya Made Ada dengan keberadaan Museum dan Gallery miliknya nya.

Keberadaan Museum itulah yang memperkuat jati diri Desa Pakraman Pakudui sebagai sentra pembuat kerajinan Patung Garuda.

Selain museum untuk membangkitkan minat generasi muda dan mengenalkan seni ini secara langsung ia pun membuka kelas mematung (Wood Carving School) yang dibuka untuk umum yang sangat ramai di datangi tamu mancanegara.

Impian Membangun Patung Dewata Nawa Sanga

Keseimbangan pembangunan di sektor pariwisata sangat penting agar tidak semua bertumpu pada Bali selatan dan tengah untuk itu diperlukan pengembangan destinasi pariwisata baru salah satunya dengan membangun patung Dewata Nawa Sanga diseluruh penjuru Bali.

Seperti dapat dilihat saat ini pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana yang telah rampung dikerjakan secara nyata menjadi maskot dan sumber pendapatan baru bagi warga sekitarnya termasuk pemerintah daerah.

“Ini salah satu pengembangan wisata kreatif berbasis budaya Bali. Bercermin dari keberhasilan ini, saya berharap patung Dewata Nawa Sanga bisa diwujudkan untuk bisa menjadi maskot wisata Bali. Patung ini mestinya diwujudkan di semua penjuru sesuai pengider bhuwana,” sarannya.

Ia mengatakan patung Dewata Nawa Sanga bisa diwujudkan sesuai pengider bhuwana (tata letaknya). Dewa Wisnu dibangun di arah Utara, Dewa Sambhu (Timur Laut), Dewa Iswara (Timur), Dewa Maheswara (Tenggara), Dewa Brahma (Selatan), Dewa Rudra (Barat Daya), Dewa Mahadewa (Barat), Dewa Sangkara (Barat Laut) dan Dewa Siwa (Tengah).

Pengider bhuwana ini juga diharapkan memberikan kekuatan kepada generasi muda Bali dalam menjaga Bali. Ia mengatakan dengan membangun patung pengider bhuwana ini, secara ekonomi potensi terbangunnya kesejahteraan masyarakat akan sangat terbuka. Dikatakannya pendekatan pembangunan pariwisata yang masih bersandar pada pengembangan destinasi alam sudah harus diimbangi dengan merangkul para pelaku seni kreatif di Bali.

Promosi Pariwisata dan Peningkatan Infrastruktur

Minimnya promosi pemerintah untuk seni patung keluar negeri menjadi hambatan terbesar proses pengenalan seni patung Garuda di luar Negeri. Dahulu ketika zaman pemerintahan presiden Soeharto seniman diberikan ruang khusus untuk ikut menggelar promosi seni. Untuk itu disarankan perlu secara khusus pemerintah menyiapkan dana promosi seni dan budaya.  Ia mengatakan promosi bicara tentang branding, sehingga dana promosi tidak dapat dipakai hitungan linear. Misalnya keluar diperlukan dana sekian untuk promosi di luar negeri, lalu income yang kita dapat berapa? Sebab menghitung manfaat dari branding bukan dengan cara seperti itu, namun harus dipantau dari sisi seberapa besar efek eksistensi iklan pariwisata kita di luar negeri, itu yang penting.  Untuk mendukung pariwisata berkelanjutan selain promosi aspek penunjang seperti infrastruktur jalan perlu diperhatikan. Menurutnya Kemacetan akibat sarana jalan yang sempit dan tidak bertambah panjang serta lebar untuk menuju dan dari kawasan wisata menjadi ancaman pariwisata, selain hal dasar sangat dasar lain seperti penataan kabel bawah tanah dan pengelolaan sampah yang turut membangun citra pariwisata. Untuk itu ia sangat berharap terhadap pemerintahan saat ini lebih peduli terhadap kondisi pariwisata saat ini khusunya Ubud apalagi Ubud mempunyai pejabat teras yaitu wakil Gubernur agar lebih peka turun melihat kondisi yang makin crowded.

Pelestarian Seni dan Budaya

Kepedulian terhadap Bali harus menjadi tanggung jawab moral semua pihak. Tak hanya manusia Bali dan penduduk Bali, investasi yang datang ke Bali juga harus selaras dengan pembangunan Bali berkonsep Tri Hita Karana.

Ia berpandangan, ada hal-hal khusus yang harus dipahami pemodal jika ingin berinvestasi. Seperti halnya dapat dilihat Ubud yang mengandalkan budaya dan puri sebagai salah satu daya tarik wisata hingga kini tetap eksis. Dan pengembangan pariwisata semacam ini dapat dijadikan role model. Di mana dalam pembangunan akomodasi pariwisata sangat memperhatikan kearifan lokal setempat sebagai nilai jual utama.

Untuk itu, Made Ada berharap pemimpin di Bali harus memahami spirit ini. Diperlukan pendekatan khusus terhadap Bali, terutama dari sisi pendekatan kearifan lokalnya.  ‘’Jangan biarkan pemodal mengendalikan perkembangan Bali. Kita sebagai manusia Bali dan komponen lainnya harus memiliki mentalitas yang positif dalam mengawal Bali,’’ sarannya.

Selain pemerintah Made Ada juga mengajak  generasi muda Bali untuk ambil bagian dalam pelestarian seni patung tradisi. Karena dari tahun ke tahun minat seniman patung tradisi semakin berkurang karena beralih ke sektor lain, seperti pembangunan property yang marak di samping juga disebabkan pesatnya perkembangan teknologi yang membuat generasi muda enggan berkesenian patung tradisi.

Written By
More from travelife

Sambut Asian Games LRT Palembang Resmi Beroperasi

Dalam rangka menyambut Asian Games 2018, Palembang tak main-main dalam menyiapkan kotanya....
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *