Ubud Raya Resort – Sinergi Tourism Based Community

Industri pariwisata merupakan pilar utama penyangga perekonomian di Bali. Sayangnya, sebagian besar investasi yang ada di pariwisata dikuasai oleh orang asing. Hanya sebagian kecil masyarakat lokal yang mengambil bagian dari pembagian kue pariwisata. Dari segelintir putra daerah yang muncul sebagai pemilik usaha di hospitality industry, ada nama I Made Bukti Yasa. Seorang enterpreneur yang membina asa untuk membangun desa kelahirannya menjadi desa wisata yang terintegrasi.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sempat merilis siaran pers bahwa dalam beberapa tahun terakhir terjadi penurunan jumlah investor lokal di Bali pada berbagai sektor usaha sebesar 12%.  Sementara jumlah investor dari luar negeri, terutama asal Tiongkok terus tumbuh. Data ini tentu menunjukkan alarm tanda bahaya dan dikhawatirkan masyarakat Bali akan hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Di tengah gempuran investasi dari pihak asing, I Made Bukti Yasa tetap optimis menghadapi kompetisi yang ada. Pemilik akomodasi mewah bernama Ubud Raya Resort ini yakin masyarakat Bali akan mampu mengolah potensi pariwisata sebagai tuan di tanah milik mereka sendiri. Kuncinya adalah kerja sama antar elemen masyarakat demi mewujudkan pariwisata Bali yang “friendly” terhadap orang lokal.

Sinergi Pertanian dan Pariwisata

Sebagai seorang pengusaha yang mengembangkan usaha di desa kelahirannya, yaitu di Desa Sayan, Ubud, Gianyar, Made Bukti Yasa berharap akomodasinya dapat menjadi gerbang pembuka pengembangan pariwisata berbasis masyarakat lokal di lingkungan tersebut. Industri pariwisata memang sudah bergeliat di daerah tersebut sejak lama namun masyarakat belum merasakan dampak sosial dan ekonomi dari aktivitas pariwisata di daerah tersebut.

“Rencana jangka panjang saya adalah mengembangkan aktivitas pariwisata yang melibatkan komponen masyarakat di lingkungan banjar dan desa. Jadi seluruh kegiatan masyarakatnya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi untuk mendukung pariwisata di desa mereka,” ujar Bukti Yasa.

Salah satu kegiatan masyarakat desa yang diharapkan dapat mendukung geliat pariwisata di Desa Sayan adalah pertanian. Selama ini pertanian mulai ditinggalkan masyarakat karena dianggap kurang menjanjikan dari segi ekonomi. Menurut Made Bukti Yasa, hal itu wajar terjadi karena tidak adanya dukungan kebijakan yang mampu mengayomi sektor pertanian.

“Saya pikir, pertanian konvensional memang sulit dikembangkan di Bali apalagi dengan minimnya lahan yang ada. Sebaiknya pertanian yang dikembangkan dirancang agar bisa bersinergi dengan pariwisata yang ada di Bali,” kata Bukti Yasa menambahkan.

Akhirnya mulai muncul sebuah konsep penggabungan aktivitas pariwisata dan pertanian lewat paket-paket wisata yang dihadirkan para praktisi di bidang pariwisata. Misalnya wisata berjalan-jalan atau bersepeda mengitari hamparan persawahan. Belakangan juga muncul paket wisata yang melibatkan wisatawan untuk terjun langsung ke sawah mengikuti proses menanam bibit padi hingga mentraktor lahan persawahan.

Namun Made Bukti Yasa berharap, peran pertanian dalam upaya bersinergi dengan pariwisata jauh lebih besar dari pada menjadi suatu atraksi wisata. Pertanian di Bali seyogyanya dapat menopang kebutuhan yang datang dari industri pariwisata. Misalnya saja, hasil pertanian dari masyarakat lokal, didistribusikan ke hotel-hotel dan restoran yang ada di Bali.

Berwirausaha

Perjalanan Bukti Yasa menuju keberhasilan seperti sekarang tidaklah instan dan justru penuh kerikil tajam. From zero to hero demikian pengandaian yang tepat untuk menggambarkan sosok Bukti Yasa yang sekarang. Dulunya ia merupakan karyawan swasta yang terjebak pada rutinitas sebagai pegawai. Lantaran kebutuhan hidup yang kian mendesak, Bukti Yasa akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang enterpreneur di tahun 1975.

Berbagai macam usaha pernah digelutinya. Mulai dari usaha konveksi, garmen, hingga toko oleh-oleh. Hanya saja satu persatu usahanya tidak membuahkan hasil yang maksimal. Namun Bukti Yasa tidak menyerah begitu saja. Pria yang kerap disangka orang Tiongkok ini memiliki tekad yang kuat untuk memajukan taraf hidupnya. Sehingga ia pun tidak kapok memulai lagi usahanya dari awal.

Tahun 1998, ia merintis usaha di bidang elektrikal. Ternyata usahanya itu mampu berkembang dan bertahan hingga sekarang. Semua itu tidak terlepas dari kerja kerasnya bersama Sang Istri tercinta. Setelah itu ia mulai memikirkan untuk mengembangkan investasi pariwisata di desa kelahirannya di Ubud. Meski mendirikan Ubud Raya Resort di tengah suasana perkampungan di Desa Sayan- Ubud, Bukti Yasa tetap optimis usahanya akan mendatangkan hasil positif.

Ternyata benar, wisatawan yang datang menginap nampak menikmati suasana yang disajikan di lingkungan akomodasinya. Menurut Bukti Yasa, target market usahanya itu memang wisatawan yang menginginkan ketenangan dan jauh dari kebisingan.

Ubud Raya Resorts terdiri dari 18 unit villa dengan berbagai pilihan kebutuhan kamar. Selain menawarkan hunian yang nyaman, Ubud Raya juga menyajikan kuliner yang mampu menggoyang lidah. Meski kebanyakan yang datang merupakan market mancanegara, namun Bukti Yasa mengaku dirinya menyajikan menu makanan khas Indonesia dan Bali. Hal ini menjadi salah satu bagian dari misinya memperkenalkan khasanah budaya nusantara secara umum dan Bali khususnya.

Written By
More from travelife

Indonesia Sabet Dua Juara dari Dive Magazine

Dive Magazine, majalah wisata bahari yang bermarkas di London, Inggris, baru saja...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *