Rumah Konservasi Seni Hingga Regenerasi Seniman Bali

Suarti Boutique Resort

Setelah lebih dari 40 tahun mendedikasikan diri pada pengembangan industri perhiasan perak, kini Desak Nyoman Suarti ingin berkontribusi secara nyata pada upaya konservasi seni dan budaya. Ia mewadahi kegiatan berkesenian para seniman di akomodasi miliknya, Suarti Boutiqe Village. Hingga mengakomodir insan seniman lainnya agar dapat memiliki aksesibilitas terhadap Hak Kekayaan Intelektual, berjaya dari segi ekonomi, serta adanya regenerasi seniman dan pengrajin di kalangan anak muda.

Ubud merupakan salah satu destinasi wisata terfavorit bagi para pelancong yang menyambangi Pulau Dewata. Berbeda dengan tujuan wisata lainnya, Ubud tidak hanya menawarkan panorama alam nan eksotis, namun juga merupakan pusat dari kegiatan seni dan budaya di daerah Bali Timur. Karakteristik Ubud inilah yang mendorong Desak Nyoman Suarti untuk mengembangkan sebuah akomodasi bergaya tradisional tepat di jantung Ubud, yaitu di Pengosekan.

Suarti Boutiqe Village, terdiri dari 25 unit bangunan berbentuk rumah Joglo. Gaya arsitektur tradisional sengaja ditonjolkan di akomodasi yang terletak di Jalan Raya Nyuh Kuning, Pengosekan, Ubud ini. Hal itu merupakan bentuk refleksi dari sosok seniman serba bisa, Desak Nyoman Suarti yang memiliki komitmen melestarikan khazanah seni dan budaya Bali. Gagasan kreatif yang selama ini dituangkan ke dalam ragam bentuk perhiasan bergaya tradisional, sekarang diimplementasikan pula pada seni arsitektur di tempatnya.

Kekuatan nama Suarti ternyata menarik minat wisatawan untuk datang dan menginap di Suarti Boutiqe Village. Demi meninggalkan kesan positif terhadap setiap tamu yang datang, ia pun memastikan langsung pelayanan hospitality di tempatnya sesuai dengan standar internasional, namun tetap berbalut budaya keramahtamahan khas orang Bali. Itu sebabnya, kunjungan Suarti Boutiqe Village didominasi oleh wisatawan Eropa yang menyukai keindahan budaya lokal.

Suarti Culture Center

Menyadari bahwa fungsi akomodasi tidak hanya sebagai tempat persinggahan bagi para turis, Desak Suarti juga memahami bahwa hotel, villa, resor, maupun akomodasi lainnya merupakan corong informasi bagi wisatawan untuk mengakses atraksi wisata lainnya. Sehingga pemilik sekaligus President of Suarti Group ini berupaya memaksimalkan fungsi akomodasi miliknya sebagai jembatan antara wisatawan dengan para pelaku seni yang berkarya di Pulau Dewata.

Langkah awal yang dilakukan adalah menyediakan ruang bagi para pelaku seni untuk bebas mengekspresikan talenta seni mereka. Hal itu dilakukan oleh cucu seniman tari Legong Keraton ini dengan membuka Suarti Culture Center. Sebuah ruang terbuka budaya disediakan khusus di Suarti Boutiqe Village, sebagai tempat menggelar aktivitas spiritual dan malam budaya yang akan digelar secara reguler sebagai langkah awal wujud konservasi seni dan budaya.

Tempat ini bisa disebut sebagai Rumah Konservasi Seni, yakni tempat untuk para pelaku seni bertukar pikiran, berkreasi dan saling mengedukasi. Benang merahnya tentu saja pelestarian kebudayaan. Hal ini sejalan dengan misi Suarti Group yaitu di bidang sosial, lingkungan, dan budaya ” ujar Arya Primanda Wibisana, Managing Director Suarti Group.

Arya menjelaskan bahwa Suarti Group didirikan pada awal 1990 berawal dari usaha perhiasan perak yang kemudian berkembang menjadi satu perusahan holding yang bergerak di bidang budaya, gaya hidup, agrobisnis, properti, dan hospitality. Selama perjalanan 20 tahun itu pula banyak dinamika yang terjadi, salah satunya era destruktif di industri kerajinan Bali. Terjadinya perang harga serta munculnya raksasa kompetitor dari Cina membuat seniman dan pengrajin kian terpinggirkan. Kondisi ini pula yang mendorong Suarti Group untuk bergerak menjembatani para seniman dengan para investor.

“Tidak mungkin upaya pelestarian seni dan budaya dapat terlaksana apabila para pelakunya belum mencapai kedigdayaan ekonomi. Karena itu kami akan menyediakan sebuah tempat khusus untuk konservasi lingkungan, ekonomi dan budaya untuk para UMKM dan para seniman,” tutur Arya menambahkan.

HAKI dan Regenerasi

Apabila iklim perekonomian yang stabil telah tercapai di kalangan pelaku seni dan pengrajin, barulah upaya mematenkan Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI dapat terwujudkan. Demikian pandangan Desak Suarti yang sempat terjegal urusan HAKI tersebut. Sejak mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di New York, pada tahun 1986, ia sendiri belum mengambil langkah mematenkan desain karyanya yang telah mendunia itu. Karya-karyanya dengan mudah diterima di industri fashion kelas dunia, lantaran dibuat memakai tangan. Karena itulah lebih dihargai di luar negeri. 

Meskipun teknologi mesin mampu memberikan kemudahan bagi para seniman kerajinan perak, namun Suarti tetap idealis menyuguhkan karya seni dari tangan-tangan seniman bertalenta. Sebelum membuat karya, seniman terlebih dahulu memanjatkan doa. Lantunan doa inilah kemudian memancarkan vibrasi kepada karya seni yang dibuat. Aspek spiritual ini menjadikan karya seni perak buatannya memiliki “Taksu” sehingga tiap-tiap perhiasan itu mampu memancarkan pesonanya. Selain itu Suarti merancang perhiasannya tidak sembarangan melainkan senantiasa makna filosofi di tiap-tiap karyanya.

Namun suatu ketika ia digugat karena telah menggunakan ragam hias yang sudah dipatenkan oleh seorang warga Amerika. Pengalaman itu akhirnya menjadikan pelajaran bagi Desak Suarti untuk lebih peduli terhadap isu HAKI. Selain itu ia kini aktif mengedukasi para seniman di Bali untuk segera mematenkan karya-karya mereka agar tidak “dirampas” oleh orang luar.

Saya mulai aktif mengajak rekan-rekan seniman untuk mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual atas karya yang mereka buat. Melalui Forum Peduli Budaya Bali, saya dan teman-teman lainnya di sana berusaha membantu para seniman yang ingin mendaftar HAKI tersebut,” kata Desak Suarti yang juga peraih Kartini Award tersebut.

Lanjutnya, selain fokus pada konservasi seni dan budaya, sebagai fasilitator seniman dan UMKM, serta membantu perlindungan hak cipta para seniman, Suarti Group juga peduli terhadap upaya regenerasi seniman di kalangan generasi muda. 

Kami mencari bibit-bibit baru yang siap kami bina untuk meluncurkan produk-produk yang baru,” imbuh Arya.

Pada hakikatnya, Suarti Group ingin menciptakan sebuah citra baru, bukan hanya sekedar tentang kerajinan perak. Melalui kontribusi nyata yang telah dimulai saat ini, diharapkan Suarti Group lebih banyak mengambil peran dalam upaya pelestarian seni dan budaya sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan para pelaku seni yang ada di Bali. Sebab menurut Desak Suarti, seni yang paling sederhana adalah seni membahagiakan orang lain.

Written By
More from travelife

Destinasi Paling Berwarna di Dunia

Dari yang alami hingga buatan manusia, berikut ini tempat-tempat di dunia yang...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *