Promosi Pariwisata Harus Lebih Aktif, Optimis Bali Masih Ekslusif

Potensi pariwisata di Pulau Dewata yang sangat besar telah diakui oleh khalayak dunia. Jutaan pelancong dari segala penjuru dunia datang ke Bali demi menyaksikan langsung keindahan Pulau Seribu Pura ini. Namun benarkah, banyaknya wisatawan yang datang dirasa belum cukup memenuhi ekspetasi para pelaku usaha di industri pariwisata? Sehingga, muncul isu bahwa pariwisata di Bali dijual sedemikian murah demi menarik hati calon wisatawan untuk datang ke Bali?

Kompetisi usaha di industri pariwisata memang kian menguat dari waktu ke waktu. Hal ini diakui pula oleh seorang praktisi pariwisata Bali, Ida Bagus Lolec Surakusuma. Pria yang akrab disapa dengan nama Lolec ini mengatakan bahwa merupakan suatu kewajaran apabila suatu usaha menawarkan paket-paket dengan harga lebih murah kepada calon konsumen untuk menarik minat mereka. Seperti yang sering ditawarkan dalam industri pariwisata yaitu paket perjalanan wisata, akomodasi, hingga atraksi wisata yang dipatok dengan tarif di bawah rata-rata.

“Standar istilah murah itu seperti apa dulu. Kalau menurut saya, wajar jika travel agent atau hotel menawarkan produk dan jasa dengan harga lebih murah untuk berpromosi. Namun yang perlu diperhatikan adalah harus ada regulasi yang jelas agar tidak terjadi perang tarif tak terkendali,” ujar Lolec.

Menurut Lolec, daerah tujuan wisata di luar Bali pun kerap menawarkan paket wisata murah ke daerah mereka. Justru bila dibandingkan destinasi wisata lainnya yang bersaing dengan Bali, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, Lolec berpendapat bahwa Bali terbilang masih cukup eksklusif. Daerah-daerah tersebut juga mengandalkan promosi dengan iming-iming harga murah kepada target market mereka.

Dalam kondisi ini, hal yang mesti diperhatikan adalah bagaimana agar tetap menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran pasar yang ada di industri pariwisata. Jangan sampai jumlah suplai produk dan jasa yang ditawarkan industri pariwisata malah lebih besar dari jumlah wisatawan yang datang. Untuk menyikapi persoalan ini, menurut Lolec perlu dilakukan upaya promosi pariwisata yang lebih masif.

Selama ini memang telah dilakukan promosi pariwisata baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun para pelaku industri terkait. Namun bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh negara-negara tetangga, promosi wisata di Indonesia masih kurang bergaung. Apalagi saat ini pemerintah sedang mencanangkan pengembangan 16 destinasi wisata baru di Indonesia. Tentunya tantangan untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia, khususnya Bali, semakin berat. 

“Saran saya, pemerintah harus lebih gencar memasarkan potensi pariwisata yang ada di Indonesia. Selain itu jangan sampai anggaran yang sudah ada digunakan untuk berpromosi dengan pola yang itu-itu saja. Perlu adanya pemetaan strategi dalam berpromosi sesuai dengan karakter market yang dituju,” kata pria yang pernah bekerja sebagai travel writer tersebut.

Petualangan ke Australia

Karier Lolec di industri pariwisata terbilang cukup lama yaitu hingga puluhan tahun lamanya. Mulai dari karir sebagai pekerja karyawan hingga menjadi bos perusahaan pernah dicicipinya. Namun yang menarik dari cerita kehidupan Lolec bukanlah tentang apa saja capaian yang telah diraihnya. Melainkan bagaimana proses yang telah dilaluinya selama ini, itulah yang menjadi kisah yang telah menginspirasi banyak orang.

Kisah ini dimulai tatkala Lolec mendengar berbagai cerita yang datang dari para wisatawan yang menginap di losmen milik pamannya. Salah satunya bercerita bahwa ia datang dari Australia ke Bali melalui jalur darat. Cerita ini pun memotivasi Lolec untuk melakukan hal yang sama, yaitu pergi ke daerah timur Indonesia menempuh jalur darat lalu dari Dili terbang Darwin, Australia.

Rencana Lolec ini didukung oleh Sang Ibunda, bahkan ibunya rela menjual mesin jahit guna menambah biaya pembuatan paspor dan visa untuk Lolec. Dengan modal dokumen keimigrasian dan uang seadanya, Lolec nekat berjalan kaki menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan darat dari Denpasar ke Kupang pun tidak bisa disebut mudah. Ia berjalan kaki dari satu kota ke kota lain. Dari sebuah desa ke desa lainnya. Melewati jalanan beraspal hingga masuk ke hutan belukar. Teriknya panas dan derasnya hujan dilalui dengan kesabaran yang melampaui kemampuan manusia pada umumnya. Bahkan pernah dalam kondisi basah kuyup, ia berjalan tanpa henti dengan perut yang belum diisi. Dengan sisa tenaganya ia mencari dahan sebagai tempat melepas lelah sekaligus tindakan mawas diri terhadap keberadaan binatang buas.

Singkat cerita setibanya di Dili, Lolec dipertemukan dengan pejabat konsulat Indonesia untuk Dili. Di sana ia diizinkan tinggal sementara dan difasilitasi penerbangan ke Darwin. Saat beristirahat, Lolec merenungi pengalaman yang telah dilaluinya selama ini. Ia terkesima mendapati dirinya yang masih hidup setelah menghadapi ujian yang sangat berat. Saat itu ia yakin, selama hidup di Australia nanti ia tidak akan mati kelaparan. Tekadnya sudah mantap untuk menjelajahi negeri Kangguru tersebut.

Tiba di Darwin, Lolec merasa menghirup aroma pengharapan. Ada sebuah kesempatan hidup yang baru, demikian pikirnya tentang Negeri Kangguru tersebut. Sementara uang yang dipegangnya kian menipis, Lolec segera mencari pekerjaan. Ia segera mendapat kerja sebagai tenaga pembersih rumput dengan gaji 22 Dollar per hari. 

Setelah 8 minggu bekerja, Lolec berhasil membeli kendaraan sendiri dan berangkat menuju Sidney. Di sana ia kembali mencari pekerjaan dan mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Tak terasa dua tahun ia bekerja di Sidney. Rasa rindu akan kampung halaman menyeruak, mengingatkannya untuk segera pulang. Berbekal uang tabungan hasil jerih payah selama ini, Lolec terbang ke tanah kelahirannya untuk menemui keluarga tercinta.

Pulang ke Bali

 Ia juga segera menemui Sang Kekasih hati, meski ia sendiri was-was apakah kekasihnya itu masih menyimpan cinta mereka. Ternyata kekasihnya itu dengan setia menanti Lolec bermodalkan asa bahwa suatu saat nanti Lolec akan kembali pulang. Segeralah ia menyunting pujaan hatinya, Ida Ayu Wirantini Utari di tahun 1974. 

Dengan pengalaman yang ia lewati di Australia, Lolec bersyukur mendapat kesempatan melihat luasnya dunia, hingga wawasannya terbuka, hingga karena pengalamannya di Australia itulah, Lolec mendapat kesempatan bekerja sebagai pramuwisata di PT. Bali Tour dan di anggap sosok penting dalam perusahaan yang berpengalaman di Australia. 

Karir Lolec kian menanjak hingga ia bergabung di PT. Pasific World Travel yang merupakan perusahaan perjalanan wisata yang memiliki jaringan di seluruh dunia. Posisinya sebagai managing director merupakan pencapaian yang menjadikannya sebagai salah satu tokoh pariwisata Bali yang sukses.

Segala pengalaman berproses dari nol membuat Lolec menjadi pribadi yang lebih kuat menghadapi hidup dan akhirnya menjadi cambuk untuk bekerja keras mencapai kesuksesan. Semangat menjemput impian dari Lolec tentunya patut ditiru oleh generasi muda saat ini sehingga mereka pun dapat menjemput impian masing-masing.

Tags from the story
,
Written By
More from travelife

Borobudur Masuk Daftar Antrian Memory Of The World UNESCO

Setelah masuk dalam daftar Situs Warisan Budaya Dunia (World Heritage Site) milik...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *