Prinsip Pariwisata Harus Mengedepankan Konsep Berkelanjutan dan Berkualitas

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, M.MA, MA
Rektor Universitas Dhyana Pura

Berbicara mengenai Bali tentunya selalu dikaitkan dengan industri pariwisatanya yang telah berkembang sej ak puluhan tahun silam. Pertumbuhan industri ini nyatanya telah menimbulkan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan sektor ekonomi dan industri lainnya di Pulau Dewata. Hanya saja, sebagai industri yang menggabungkan barang dan jasa, eksistensi pariwisata sangat bergantung pada keberadaan konsumen, yaitu wisatawan.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kuantitas wisatawan ke Bali di tengah kompetisi industri pariwisata secara global. Menurut akademisi sekaligus praktisi pariwisata, Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, M.MA, MA, pengembangan pariwisata berkelanjutan dapat menjadi solusi meningkatkan daya saing kepariwisataan Bali.

Menurut Gusti Rai Utama, pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism merupakan konsep pariwisata yang memperhitungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, tidak hanya untuk saat ini melainkan juga di masa depan. Keberadaan kegiatan pariwisata tidak hanya memberikan keuntungan atau profit bagi investor, juga menyejahterakan masyarakat lokal. Serta tetap mempertahankan keanekaragaman hayati di suatu destinasi wisata dan melestarikan nilai-nilai warisan budaya masyarakat setempat.
Gusti Rai Utama yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Dhyana Pura periode 2019-2023 ini optimis jika konsep pariwisata berkelanjutan dapat terealisasikan di Bali. Terbukti dengan adanya gerakan pembangunan pariwisata berkelanjutan di desa-desa wisata, baik yang diinisiasi oleh pemerintah maupun dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Gusti Rai Utama pun berkesempatan menjadi salah satu fasilitator dalam Program Pendampingan Desa Wisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Prinsip keberlanjutan yang diterapkan dalam program pendampingan desa wisata ini adalah mewujudkan idealisme ekonomi berbasis kerakyatan. Hal ini diimplementasikan dengan memberdayakan seluruh elemen di desa untuk menggerakkan pariwisata. Sebagai contoh, tidak diperlukan pembangunan akomodasi baru di desa wisata. Rumah-rumah warga dapat dimanfaatkan sebagai homestay. Di satu sisi menjadi daya tarik bagi wisatawan sementara di sisi lain dapat memunculkan rasa kebanggaan terhadap masyarakat lokal karena mereka tidak hanya menjadi penonton melainkan telah berpartisipasi di industri pariwisata Bali,” ujar Gusti Rai Utama.
Lanjutnya, dampak positif lainnya yang dirasakan oleh desa binaan adalah tidak adanya eksploitasi lingkungan untuk kepentingan pariwisata. Selama ini pariwisata dianggap sebagai penyebab kerusakan ekologi karena kegiatan pariwisata memerlukan pembukaan lahan secara masif. Melalui konsep pariwisata berkelanjutan ini, pelaku pariwisata hanya perlu mengelola potensi alam yang ada secara bijak guna mewujudkan prinsip keberlanjutan pada aspek lingkungan hidup.

Prinsip Pariwisata Berkualitas
Lebih jauh Gusti Rai Utama memaparkan, tidak hanya prinsip keberlanjutan tetapi juga prinsip pariwisata berkualitas menjadi concern bagi semua pihak. Pria yang meraih gelar Doktoral Pariwisata di Universitas Udayana ini mengatakan bahwa pariwisata yang berkualitas mengacu pada tiga dimensi atau Triangle Quality Tourism. Pertama adalah Quality of Touris Experience atau kualitas pengalaman berwisata yang dirasakan wisatawan. Dalam dunia pariwisata, kepuasan wisatawan menjadi indikator keberhasilan layanan dalam industri.
Setelah mengetahui bahwa kepuasan para wisatawan bergantung pada kualitas servis yang diberikan, maka perlu diketahui apa saja yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan tersebut. Misalnya saja tingkat pendidikan dan kesejahteraan hidup SDM. Semakin tinggi tingkat pendidikan atau semakin tinggi tingkat kesejahteraan SDM, maka akan baik pula kualitas pelayanan yang dapat diberikan. Sehingga dapat disimpulkan Quality of Life para SDM ini dapat menjadi salah satu indikator pariwisata yang berkualitas.
Selain Quality of Tourist Experience dan Quality of life local people, kualitas investor atau quality of investor juga menjadi salah satu indikator penyelenggaraan pariwisata yang berkualitas. Menurut Gusti Rai Utama, investor tidak hanya dari pihak asing. Pemerintah pun merupakan investor yang memiliki peranan yang cukup besar dalam pengembangan pariwisata di Bali. Salah satu kontribusi pemerintah selaku investor adalah mengembangkan destinasi wisata yang sudah ada namun belum terkelola secara optimal.
“Destinasi inilah yang menjadi daya tarik utama atau core business dari industri pariwisata. Pengelolaan destinasi wisata harus mempertimbangkan aspek 4A, yaitu Attraction, Accessibility, Amenity, dan Ancillary,” ujar penulis buku ‘Pemasaran Pariwisata’ tersebut.
Aspek pertama adalah attraction atau atraksi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di destinasi tersebut. Kemudian accessibility atau akses menuju destinasi tersebut. Menurut Gusti Rai Utama, aspek inilah yang perlu menjadi perhatian bagi pemerintah. Ia melihat banyak destinasi wisata yang menyajikan potensi alam yang indah dan tradisi masyarakat yang unik di Bali, namun tak sedikit juga di antaranya belum terjangkau oleh para wisatawan. Entah karena infrastruktur yang kurang memadai atau tidak adanya akses transportasi menuju destinasi-destinasi yang dimaksud.
Selanjutnya amenity atau amenitas, berkaitan dengan ketersediaan sarana akomodasi untuk menginap serta restoran atau warung untuk makan dan minum. Hal ini terbilang sudah cukup banyak tersedia di Bali, bahkan ada anggapan bahwa adanya overload kamar akomodasi di Bali. Terakhir adalah ancilliary berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang mengurus destinasi tersebut. Aspek ini juga cukup tersedia karena banyak organisasi atau perhimpunan pariwisata yang memiliki concern terhadap geliat pariwisata Bali.


KETUA DPRD Badung I Putu Parwata (depan, keempat dari kiri) bersama civitas akademika Universitas Dhyana Pura usai pemilihan rektor

SDM Pariwisata
Selain pengelolaan destinasi wisata, hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas adalah penguatan SDM. Gusti Rai Utama menilai bahwa SDM pariwisata yang ada di Bali sebenarnya memiliki keunggulan dalam hal hospitality. Kualitas pelayanan yang diberikan dibarengi karakter keramahtamahan yang merupakan kepribadian orang Bali, menjadi nilai plus para SDM lokal yang tidak dapat ditemukan di hotel berbintang di luar negeri.
Hanya saja yang belum banyak diperhatikan adalah standar kompetensi para pekerja pariwisata tersebut. Standar kompetisi dapat dibuktikan melalui sertifikasi yang diuji setiap beberapa periode. Padahal faktanya di lapangan banyak pegiat pariwisata yang enggan meningkatkan kompetensi diri atau berupaya mengantongi sertifikasi yang bisa meningkatkan daya saing mereka di tengah era persaingan global seperti saat ini.
Karena itulah, diperlukan sinergi antara pemerintah dengan dunia pendidikan yang merupakan pencetak para SDM pariwisata. Pemerintah sebagai pembuat dan pelaksana kebijakan menyediakan regulasi yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan para pekerja pariwisata dalam mengakses sertifikat kompetensi. Sementara lembaga pendidikan menjadi institusi yang menyelenggarakan dan menerbitkan sertifikat kompetensi tersebut.
Gusti Rai Utama menjelaskan bahwa Universitas Dhyana Pura atau populer dengan nama Undhira tersebut, selama ini telah menjadi institusi pendidikan yang membekali para lulusannya dengan sertifikat kompetensi. Pemberian sertifikasi ini juga tidak dilakukan secara sembarangan melainkan telah melalui proses uji kompetensi terlebih dahulu. Diharapkan melalui sertifikat sesuai kompetensi masing-masing, para lulusan Undhira siap terjun di dunia kerja.
Undhira merupakan perguruan tinggi swasta yang berwawasan kepariwisataan berkelanjutan. Seluruh program studi yang ada di Undhira dirancang untuk mencetak SDM profesional yang dapat terjun di industri pariwisata. Namun jangan salah, prodi yang ditawarkan tidak hanya sebatas berkaitan dengan kegiatan perhotelan atau pun perjalanan wisata. Ada pula prodi yang mempelajari ilmu di bidang medis. Salah satunya adalah program S1 Fisioterapi.
“Sekilas tidak nampak hubungan langsung antara tenaga fisioterapis dengan kegiatan pariwisata. Dalam kegiatan wisata tidak dapat dipungkiri adanya resiko cidera fisik yang dapat dialami sewaktu-waktu oleh wisatawan selama berwisata. Pada saat momen itulah dibutuhkan tenaga medis yang tidak hanya menguasai wawasan kesehatan juga memiliki kecakapan komunikasi dengan para wisatawan itu. Maka dalam kegiatan perkuliahan program S1 Fisioterapi, mahasiswa tidak hanya belajar seluk beluk fisioterapis juga belajar mengenai hospitality dan bahasa asing,” kata rektor peraih gelar Magister Manajemen Agribisnis Udayana tahun 2005 dan Master of Arts di CHN Professional University Leeuwarden, Belanda Tahun 2007 ini.
Selain program S1 Fisioterapi, terdapat prodi lainnya yang tergabung di Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains. Antara lain : Gizi (S1), Kesehatan Masyarakat (S1), Psikologi (S1), Perekam Dan Informasi Kesehatan (S1), dan Biologi (S1). Sementara di Fakultas Ekonomika dan Humaniora terdapat jurusan sebagai berikut : Akuntansi (S1) Manajemen (S1) Pemasaran Digital (D3) Pengelolaan Perhotelan (D4) Pendidikan Guru PAUD (S1) Pendidikan Vokasional Kesejahteraan Keluarga (S1) dan Sastra Inggris (S1). Satu lagi fakultas lainnya adalah Teknologi dan Ilmu Komputer, menaungi dua prodi yaitu Ilmu Komputer dan Sistem Informatika.

Acara Wisuda Universitas Dhayana Pura

Profil Gusti Rai Utama
Memimpin perguruan tinggi yang menaungi 15 prodi dengan jumlah mahasiswa mencapai 3.000 orang, bukanlah suatu perkara yang mudah. Diperlukan sikap leadership yang baik guna mencapai sasaran target yang telah ditetapkan. Sejak dilantik pada 2019 lalu, Gusti Rai Utama telah mencanangkan program “Undhira 1000” guna menyiapkan akreditasi institusi dan mencapai target penerimaan mahasiswa baru. Selain itu ia beserta jajaran pimpinan di Undira lainnya tengah mewujudkan visi universitas teladan dan unggulan melalui implementasi tujuh Karakter. “Percaya diri, integritas, keberagaman, kewirausahaan, kepemimpinan yang melayani, profesionalitas dan wawasan global”.
Pencapaian sebagai pemucuk pimpinan di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Bali, merupakan buah dari perjalanan kerja keras seorang Gusti Rai Utama. Perjuangan dipenuhi kucuran keringat dan air mata, telah ia lalui bahkan sejak di masa kanak-kanak. Pria yang terlahir dari keluarga dengan kondisi finansial yang kurang baik ini mengaku termotivasi untuk bekerja keras sejak kecil demi meningkatkan taraf hidupnya.
Ia memahami bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar yang dapat membawanya terhubung dengan keberhasilan. Maka ia senantiasa bersemangat tatkala mendapat kesempatan menimba ilmu di sekolah formal. Tamat dari SMA di tahun 1990, ia melanjutkan ke PPLP (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata) Dhyana Pura mengambil jurusan Tata Boga. Selanjutnya di tahun 1996 ia melanjutkan ke jenjang S1 Ekonomi Universitas Mahasaraswati. Sambil berkuliah, ia juga bekerja paruh waktu sebagai sopir. Ia menuturkan tidak pernah merasa berkecil hati pernah memiliki masa lalu sebagai sopir. Ia justru bangga karena telah dapat membuktikan diri telah mampu mentransformasikan kehidupannya lewat kerja keras dan tekun berusaha.
Setelah menyandang gelar Sarjana Ekonomi, ia mendapat tawaran mengajar sebagai dosen di Sekolah Tinggi Manajemen Dhyana Pura. Kesempatan inilah yang menjadi momentum bagi Gusti Rai Utama untuk mengubah keadaan hidupnya. Sejak saat itu pula banyak kesempatan emas yang ia dapatkan, salah satunya mendapatkan beasiswa berkuliah di Negeri Belanda. Setelah itu kariernya kian meningkat, selain menjadi dosen ia juga kerap menjadi pembicara dalam seminar juga menerbitkan berbagai buku.
Sempat menjabat sebagai Wakil Rektor, kini Gusti Rai Utama dipercaya menjadi Rektor Undhira. Kisah perjalanan hidupnya tentu dapat menjadi sumber inspirasi, terutama bagi kalangan generasi muda. Gusti Rai Utama berpesan, kepada siapa pun yang merasa terlahir dari keluarga kurang mampu dan tidak memiliki akses menuju cita-cita, jangan sampai berkecil hati. Justru keterbatasan itulah hendaknya dijadikan cambuk motivasi untuk berusaha mencapai apa pun yang diinginkan. Sementara untuk siapa saja yang hidup dengan segala kemudahan untuk jangan terlena dengan apa yang dimiliki. Segera keluar dari zona nyaman dan berusaha secara mandiri, sebab apa yang kita miliki sekarang tidaklah bersifat abadi.

Written By
More from travelife

Festival Jatiluwih 2019 Sukses Digelar

Hari kedua penyelenggaraan Festival Jatiluwih 2019 berlangsung sukses. Sejak pagi, banyak wisatawan...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *