Pengabdian Sang Perwira untuk Dunia Pendidikan

Terlahir dari keluarga yang berkekurangan bukan menjadi penghalang seseorang untuk dapat merubah perekonomiannya atau pun menghalangi seseorang untuk berbuat sebuah perubahan untuk masyarakat banyak. Hal ini dibuktikan dengan perjalanan seorang perwira polisi Ketut Suanaya yang sekarang berhasil meraih kesuksesannya menjadi seorang Akademisi Pariwisata. Tidak pernah menyerah dalam menjalani kerasnya kehidupan, kini Suanaya telah berhasil menjadi seseorang yang sukses dalam dunia Akademisi Pariwisata dan banyak menciptakan bibit – bibit unggul yang mampu bersaing dalam era globalisasi sekarang ini.

Semua itu berawal saat Suanaya masih berdinas aktif sebagai anggota staf kepolisian di POLDA NUSRA tahun 1987. Sebelumnya, ia adalah seseorang yang berkomitmen untuk menjadi seorang Perwira Polisi yang total mengabdikan diri dan memberikan contoh tauladan kepada masyarakat “Polisi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”.

Prihatin, itulah yang ia rasakan saat bertemu dengan masyarakat, khususnya remaja dan anak-anak yang tidak terurus pendidikannya. Saat itu pria kelahiran desa Kapal ini, masih berkarir di dunia militer, tapi hatinya sudah resah memikirkan, bagaimana remaja-remaja itu menempuh pendidikan dan apa yang akan mereka kerjakan kelak untuk masa depan. Tahun 1979, Pak Harto mencanangkan bahwa Bali sebagai kawasan pariwisata, dari pandangan selaku Presiden saat itu sudah sangat patut diapresiasi, Suanaya melihat itu sebagai kesempatan, apalagi karirnya di dunia kepolisian memberi ia pengalaman berharga bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Tokoh yang dapat memberinya petunjuk dan bertukar pikiran di dunia pendidikan, diantaranya bapak Nengah Merta Kepala Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali.

Terbesitlah dalam pikirannya untuk membantu masyarakat lewat pendidikan dengan komitmen yang tinggi berjuang untuk menjadi pendidik yang baik. Seperti saat memimpin pasukan, hal yang ia pegang adalah sebelum memberi contoh yang baik, ia harus mendidik dirinya untuk menjadi pribadi yang setia, jujur dan iklas. Hal itu juga berlakukan saat ia mulai belajar tentang dunia pendidikan. Meskipun banyak yang meragukan langkah yang dijalankan oleh Suanaya, tanpa banyak basa basi karena diyakininya membantu orang lain lewat pendidikan sangatlah mulia. Ia langsung meminta bantuan dan pendapat bapak Nengah Merta untuk membangun SMA plus Pariwisata. Pak Merta pun menjelaskan untuk membangun sekolah plus pariwisata, harus memiliki kurikulum yang jelas, dengan jumlah 20 siswa dalam satu kelas agar lebih mudah dalam melatih ketrampilan siswa. Walau sempat beradu argumen, ia langsung mengiyakan seluruh persyaratan.

Bersama kakaknya yang menyediakan tanah untuk lokasi, dibangunlah Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP), setelah itu dilanjutkan membangun LPK Perhotelan dengan jenjang setara diploma yang dipegang oleh keponakan-keponakannya begitupun dengan SMIP Mengwitani. Saat itu ia teringat dengan salah satu tokoh yang pernah ia temui, bapak Wayan Merta Suteja yang membangun sekolah Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata (P4B) di Sanur dan bergabung dengannya. Oleh bapak Merta Suteja ia diminta untuk mengembangkan sekolah P4B di Kuta, karena tidak menemukan lokasi untuk membangun sekolah, ia kemudian berhubungan dengan kepala kantor wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali. Bapak Wayan Berata Subawa yang menggantikan posisi bapak Nengah Merta, sebagai kepala sebelumnya. Akhirnya LPK tersebut bertahan lama yang meminjam lokasi di SD 4 Kerobokan (Petitenget), yang pada saat itu masih sepi dengan siswa. P4B Kuta mengalami pertumbuhan yang pesat berkat bantuan yang datang silih berganti dan antusias masyarakat untuk melanjutkan ke pariwisata/perhotelan begitu besar.

Setelah ia pensiun tahun 2000 dari (Purnawirawan Polisi), ia menjual mobil dan menggunakan pesangon yang ia dapatkan, untuk mengontrak tanah dan mendirikan kampus BLK BLP selama 10 tahun di daerah Tegaljaya tahun 2000. Masih kita ingat tragedi bom bali tahun 2002, membawa dampak yang besar bagi pariwisata Bali, begitupun kampus yang didirikannya sepi peminat, bersyukur keluarga sangat memahami keadaannya saat itu. Melihat hal itu, bapak Wayan Beratha Subawa kemudian memanggilnya untuk membatalkan pendirian kampusnya, dan menyarankan untuk membangun SMK Pariwisata/Perhotelan.

Komitmen dalam mengabdi tanpa memikirkan berapa rupiah yang akan dia dapat. Maka didirikanlah SMK Pariwisata Dalung (SMK PARADA) tahun 2002 di jalan Mudu Taki II (Gatot Subroto Barat) Kuta Utara, Badung diatas tanah kurang lebih seluas 15 are dibawah naungan Yayasan Pendidikan Pariwisata Bali Dwipa. Terdiri atas program Akomodasi Perhotelan yang menggeluti bidang front office, house keeping, dan laundry serta program tata boga untuk mengasah keahlian di bidang jasa boga yang berkaitan dengan kitchen, bar dan restoran. Jumlah siswa sudah mencapai kurang lebih 900 siswa dengan jumlah guru tetap dan kontrak 40 orang, 28 guru honorer, termasuk guru praktisi hotel dan kapal pesiar. Laboratorium praktek pun sudah disesuaikan dengan fasilitas hotel berbintang.

Bali boleh berbangga sebagai salah satu destinasi wisata dunia, tapi Bali tidak boleh terlalu terlena, karena daerah lain seperti Banyuwangi dan NTB mulai menunjukkan keelokan dan fasilitas pariwisatanya yang mulai sejajar dengan Bali, tetapi dapat diyakini Bali akan selalu unggul di bidang pariwisata. Begitulah tanggapan Suanaya mengenai keadaan pariwisata saat ini di Bali. Ia pun menambahkan, jangan sampai Bali disamakan atau dibandingkan dengan daerah lain, Bali dengan “ajeg balinya” akan membuat perkembangan pariwisata budaya dimasa depan dapat diyakini menambah/meningkatkan kehidupan kita yang lebih baik.

“Semangat yang tidak pernah luntur, disertai kepekaan dan komitmen dalam mengabdi untuk peduli/membantu sesama”, inilah sukses versi Suanaya. Sampai saat ini, ia belum paham mengapa ia dapat bertindak sejauh ini, hingga memutuskan untuk memensiunkan diri dari dunia militer demi memajukan pendidikan pariwisata. Suanaya hanya yakin kalau ia melangkah pada sebuah jalan kebaikan, maka Tuhan akan membantu disetiap langkahnya.

 

Written By
More from travelife

Ida Ayu Oka Purnama Wati, SS, MM – Membidik Peluang Medical Tourism

Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *