Membangun Citra Pariwisata Bali

Kembangkan Akomodasi Berakar Budaya

Dahulu tatkala hingar bingar pariwisata telah didengungkan di kawasan Kuta, namun daerah Pantai Legian belum tersentuh pembangunan pariwisata. Seorang putra daerah Bali bernama Ir. I Gusti Gde Masputra memiliki visi jauh ke depan mengenai potensi pariwisata di Legian. Sehingga kepercayaan diri itulah yang membawa langkahnya untuk berani membeli lahan seluas 33 are di pinggir pantai yang belum terkoneksi dengan akses jalan pada tahun 1982. Kini di atas lahan tersebut, yang telah berkembang menjadi kurang lebih 1 hektare berdiri sebuah resort berfasilitas mewah dan menjadi akomodasi primadona para pelancong di seluruh dunia lantaran lokasinya berhadapan langsung dengan panorama laut.

Namanya dikenal melalui kiprahnya Di dunia migas dengan menduduki beberapa jabatan penting di Pertamina dan sebagai Direktur Utama PT. Badak NGL yang merupakan kilang LNG terbesar di dunia yaitu perusahaan patungan antara Pertamina (pemerintah) dengan JILCO Jepang, British Petroleum (BP) dan Total Elf Perancis. Gung Mas, demikian sapaannya, pernah mendapat kepercayaan menjabat sebagai Kepala Pertamina Asia Timur di Tokyo, yang mengendalikan wilayah Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Tiongkok. Setelah rehat dari tugas-tugasnya, putra kebanggaan Bali ini memilih untuk terus berkarya yaitu berkancah di dunia usaha.

Banyak yang memuji kepiawaannya dalam mengelola beberapa lini usaha seperti hotel, restoran, hingga layanan pencucian pakaian kelas premium. Kisah kesuksesannya telah diulas dalam berbagai kesempatan. Namun tidak banyak yang mengetahui, mengapa seorang pria yang telah mapan di ibukota, justru memilih kembali ke daerah untuk membangun usaha secara mandiri. Seakan pulau kelahirannya memiliki magnet tak kasat mata sehingga menarik pria lulusan ITS Surabaya ini kembali ke pangkuannya.

“Dalam sebuah pertemuan keluarga di Jakarta, saya sempat berdiskusi dengan salah seorang sepupu mengenai rencana menapaki masa pensiun. Saya menjawab ingin pulang kembali. Saat saya pensiun pun banyak yang menawarkan kerja sama, namun saya menolaknya karena setelah 37 tahun saya meninggalkan tanah kelahiran, saya ingin pulang,” ujar Gung Mas.

Keinginan untuk pulang dan menetap tidak lain karena kecintaannya pada Pulau Dewata, baik terhadap budaya, adat istiadat, dan nilai-nilai positif di tengah masyarakatnya. Diakui pria kelahiran Denpasar, 10 Agustus 1945 tersebut, rasa cintanya pada Bali tidak meluntur meskipun ia telah berkelana melihat keindahan dunia. Sering kali ia harus pergi ke satu negara ke negara lain sebagai bagian dari pekerjaannya. Saat itulah ia melihat Bali dari perspektif lain, yaitu dari sudut pandang luar. Ia menyadari memang betul adanya Bali memiliki keunikan yang jarang ditemui di daerah lain. “Bali identik dengan keramahan masyarakatnya yang natural dan belum pernah saya temui sikap yang sama di tempat lainnya,” kata pendiri Putra Mas Hotel Grup itu.

Tentang mengapa ia memilih usaha di industri pariwisata yang kontradiktif dengan pengalaman kerja sebelumnya, Gung Mas mengatakan bahwa dirinya terinspirasi oleh perkembangan industri pariwisata yang ada di Jepang. Di Negeri Sakura itu pariwisata berkembang mengikuti arus modernisasi namun masyarakatnya tidak meninggalkan identitas budaya yang telah diwariskan sejak dahulu. Menurutnya kondisi tersebut hampir sama yang ada di Bali sehingga dirinya pun tertarik menekuni bidang pariwisata di pulau kelahirannya.

Keinginan Gung Mas sebagai putra daerah sangat besar untuk bisa ikut berperan serta mempertahankan kelestarian Bali  yang sudah semakin dikuasai oleh investor luar pulau termasuk menguasai tanah tanah di pulau yang sangat ia cintai ini hingga menimbulkan kekhawatiran nya akan terpinggirkannya pribumi Bali  dari tanah leluhurnya sendiri dan lambat laun budaya Bali akan berubah.

Putra Mas Group

Cerita di balik kesuksesan Gung Mas lewat berbagai lini usahanya yang menggurita, dimulai dari langkah membeli sebidang tanah berukuran 3300 meter persegi di kawasan Legian. Dengan pertimbangan visinya melihat perkembangan industri pariwisata dan lokasi yang masih bisa dikembangkan, ia pun membelinya meskipun tidak ada akses jalan yang dapat menghubungkan lahan tersebut dengan jalan utama Legian. Selain itu ia memiliki pandangan bahwa tempat itu kelak akan menjadi bagian penting dari perkembangan industri pariwisata di Bali.

Pada tahun 1986, Gung Mas kemudian mendirikan sebuah akomodasi penginapan berjumlah 14 kamar di atas lahan yang pernah dibelinya. Di masa yang sama ia masih bertugas di pertamina, sehingga pengelolaan hotel bernama Bali Niksoma lebih banyak dipercayakan kepada saudara-saudaranya. Nama hotel sendiri merupakan buah pikir dari Gung Mas yang terinspirasi dari bahasa Sansekerta. Mengambil kata Niksoma yang berarti Tabungan, diharapkan usaha tersebut dapat menjadi bekal tabungan bagi Gung Mas beserta keluarga.

Setelah purna tugas di tahun 2001, Gung Mas pun akhirnya mewujudkan rencananya untuk pindah ke Bali. Ia juga memutuskan untuk secara serius menekuni usaha di industri pariwisata. Salah satu langkah strategis yang dilakukannya adalah merenovasi Hotel Bali Niksoma. Hotel ini sebelumnya dirancang oleh arsitektur ternama di Bali yaitu Ida Bagus Tugur yang mengusung konsep arsitektural Bali yang kental. Kemudian banyak permintaan dari para tamu yang didominasi oleh wisatawan mancanegara, untuk memberikan sentuhan modern pada bangunan akomodasi. Hotel Bali Niksoma yang sudah berumur belasan tahun kemudian direnovasi dengan bantuan Arsitek Hadiprana untuk menjadi hotel berkelas tinggi dengan arsitektur Bali Modern. Hotel ini kemudian menjadi sebuah boutique beach resort, dirancang dari gagasan kolektif terinspirasi dari berbagai gambaran mengenai akomodasi ternama dunia yang pernah dikunjungi Gung Mas. Pernak pernik rancang bangunnya  adalah detail yang artistik modern yang tidak kehilangan nafas Bali. Saat ini akomodasi tersebut telah berkembang dengan adanya perluasan lahan yang semula hanya 3300 meter persegi kini menjadi hotel dengan luas 10.000 meter persegi.

Bercermin pada kesuksesan Bali Niskoma Boutique Beach Resort yang telah menjadi akomodasi mewah dengan occupancy tinggi, Gung Mas pun mantap melanjutkan ekspansi usaha dengan mengembangkan beberapa hotel lainnya. Sebuah hotel berbintang yang diberi nama dari bahasa Sansekerta yaitu The Magani yang berarti Delightful Place atau tempat yang menyenangkan didirikan Gung Mas di tahun 2012. The Magani Hotel and Spa menempati rangking pertama sampai pertengahan tahun 2015 dari 44 hotel yang ada di Legian versi Trip Advisor. Bahkan mendapatkan award sebagai The Leading Indonesa  Boutique hotel pada tahun 2013 dan 2014 dari ITTA (Indonesia Travel Tourism Award) Jakarta.

Dilanjutkan dengan pembangunan The Bandha Hotel & Suites yang merupakan rebranding dari hotel yang pernah dibeli Gung Mas pada tahun 2010. Seperti pada penamaan hotel sebelumnya, kali ini pun nama The Bandha dikutip dari bahasa Sansekerta yang berarti harta. Hotel yang berlokasi di Jalan Padma Utara, Legian, ini sangat diminati oleh tamu tamu baik domestik maupun  mancanegara karena lokasinya yang tak jauh dari Pantai Legian.

Citra Pariwisata Bali

Keseluruhan brand hotel yang dirintis oleh Gung Mas tersebut kemudian bernaung pada satu induk perusahaan bernama Putra Mas Group. Seluruh akomodasi yang dikelola oleh perusahaan tersebut memiliki karakter sebuah akomodasi bergaya modern, mewah, dan fasilitas lengkap dengan harga yang cukup tinggi. Gung Mas mengungkapkan bahwa strategi usahanya memang berbeda dari pengusaha kebanyakan. Ia sangat menghindari kompetisi perang harga karena menurutnya hal itu dapat merusak citra pariwisata Bali.

“Sejak awal saya bertekad terjun di industri pariwisata dengan keinginan membangun citra positif pariwisata Bali, khususnya yang ada di Legian, Kuta, Seminyak, dan sekitarnya. Saya ingin membentuk citra pariwisata Bali sebagai destinasi wisata yang eksklusif, meskipun mahal namun sebanding dengan kualitas pelayanan yang ditawarkan,” tegas Gung Mas.

Tidak hanya menerapkan prinsip tersebut pada pengelolaan bisnis hotel, prinsip yang sama juga diimplementasikan pada bisnis kuliner yang didirikannya. Ekspansi ke usaha restoran dilakukannya bukanlah sebuah langkah yang serampangan. Sebelumnya Gung Mas telah melakukan serangkaian survei ke berbagai restoran ternama baik yang ada di Pulau Dewata maupun di Jakarta. Setelah menemukan standar kualitas yang diinginkan barulah ia mantap membuka usaha di luar bisnis akomodasi itu di Jalan Padma, Legian.

Tempat makan tersebut diberi nama Mozarella Restaurant & Bar menawarkan sajian masakan ala barat dan masakan khas nusantara. Setelah mendapat respons positif dari pasar yang didominasi oleh wisatawan mancanegara, barulah dikembangkan lagi beberapa cabang restoran ini. Antara lain Mozzarella by The Sea at The Bandha Hotel & Suites, Mozzarella at Petitenget, Mozzarella at The Magani, dan Mozzarella at Dhyanapura di Jl. Camplung Tanduk no 6 Seminyak. 

Selain memperkenalkan brand Mozarella kepada para penikmat kuliner di Bali, Gung Mas yang kini telah dibantu putra-putranya mengelola usaha juga mengembangkan beberapa bisnis lain. Masih di bidang food and beverage yaitu Warung Modus yang berlokasi di jantung kota Denpasar, Jalan Merdeka Renon. Serta Restoran Tropikale yang berada di kawasan wisata berkembang yaitu daerah Canggu. Di luar bidang kuliner ada pula usaha yang dibangun yaitu sebuah ruko Graha Putra Mas Building dan usaha jasa layanan binatu BRITE Laundry and Dry Cleaning.

Gung Mas menunjukkan bahwa prinsip kehati-hatian sangat diperlukan dalam merintis sebuah usaha. Riset pasar wajib diperlukan seorang pengusaha agar bisa mendapatkan hasil yang diinginkan. Kemudian kiat lainnya yang harus dipenuhi agar berhasil membangun bisnis adalah selalu memperhatikan kenyamanan kerja para  karyawan sebab mereka merupakan pilar suatu usaha. Loyalitas kerja dari para karyawan akan didapatkan jika terbangun suasana kerja yang positif. Serta rasa memiliki (sense of belonging) untuk mewujudkan rasa tanggung jawab pada perusahaan.

Di balik semua cerita kesuksesannya, motivasi Gung Mas dalam mengembangkan usaha-usahanya tidak lain merupakan dorongan untuk terus berkarya. Pada saat berkiprah di industri migas ia terus berupaya berkontribusi dalam pembangunan ekonomi negara. Kini masanya ia terjun ke industri pariwisata, ia pun masih tetap ingin memberikan manfaat lewat perannya membuka lapangan kerja seluas-luasnya sekaligus membangun citra positif pariwisata Bali. Selain itu ia tiada henti mengajak semeton Bali lainnya untuk mempertahankan eksistensi budaya Bali agar tidak tergusur oleh dinamika jaman.

Written By
More from travelife

Ini Keistimewaan KEK Mandalika

Presiden Joko Widodo baru saja mengunggah vlog mengenai keindahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Nusa...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *