Jernia Mery Salengko – Legenda Rasa Warung Laota

Jika biasanya bubur dihidangkan sebagai menu sarapan, di Bali anda bisa menemukan tempat makan yang menjual bubur selama 24 jam sehari. Bukan sembarang bubur, anda dapat menikmati lezatnya bubur ala Hongkong yang otentik. Restoran bernama Warung Laota ini ada di tiga lokasi yang ada di Pulau Dewata. Serta sebuah cabang yang berada di Makasar, Sulawesi Selatan.

Mister Laota, pria yang berada di balik kesuksesan Warung Laota selama ini. Selain menjadi inspirasi dalam pemberian nama restoran yang selalu ramai dikunjungi itu. Nyatanya ia juga berperan penting pada hadirnya setiap masakan yang terhidang di meja pengunjung. Pria asal Hongkong itu memang memiliki skill memasak, terutama masakan hasil tangkapan laut atau seafood.

Sementara Sang Istri, Jernia Merry Salengko, mengambil peran dalam pengelolaan dan pengembangan usaha. Berkat tangan dinginnya serta kekompakan kerja sama dengan suami tercinta, usaha ini telah berjalan selama 16 tahun lamanya. Tentunya eksistensi usaha yang sedemikian lama itu turut serta membuktikan bahwa tempat makan ini memang benar menyajikan hidangan yang berkualitas.

Resep Rumahan

Tak seperti kebanyakan restoran, Warung Laota menyajikan menu masakan bubur sebagai signature dish mereka. Bubur yang disajikan dalam berbagai varian ini diakui paling difavoritkan para pengunjung. Ada Bubur Pelangi Laota 45 yang menghadirkan berbagai sumber protein hewani dalam satu porsinya, antara lain : daging sapi, telur, ikan, udang, dan kepiting.

Menu berjenis bubur lainnya yang tak kalah menarik untuk dicicipi adalah Bubur Ayam Satin 33, Bubur Sapi Cincang & Telor Ayam 33, Bubur Sapi Iris 33, Bubur Kodok 45, Bubur Belut 35, Bubur Kepiting Telur 40/ons (Live) 50/ons (Super), Bubur Cumi-Cumi 38, Bubur Udang 45, dan Bubur Daging Ikan Kerapu 38.

Selain bubur, Warung Laota juga menyediakan beragam menu seafood yang menggiurkan. Tidak ketinggalan menu Cakwe yang selalu dicari para penggemarnya yang datang ke Warung Laota. Panganan sejenis roti ini semakin nikmat disantap ketika dicocol dengan saos yang sudah berisi potongan cabe rawit serta parutan jahe yang menggoda.

Jernia menjelaskan bahwa yang menjadi keunggulan di restoran Warung Laota ini adalah menu bubur berasal dari resep rumahan ala masakan Hongkong. Sehingga bagi penggemar bubur oriental pastinya akan merasakan cita rasa yang otentik. Selain itu bahan yang digunakan telah melewati proses seleksi yang ketat sehingga hanya bahan-bahan bermutu dan masih segar yang digunakan. Tidak perlu khawatir dengan penambahan rasa atau pengawet buatan sebab bahan-bahan kurang menyehatkan seperti itu tidak digunakan di dapur Warung Laota.

Dulu 4 Meja Kini 4 Cabang

Ada kisah menarik di balik pendirian warung makan yang kerap disinggahi wisatawan ini. Dahulu, Sang Pemilik yakni Mister Laota merupakan nelayan tangkap ikan. Selama berlayar ia sering memasak hasil tangkapannya bersama teman-temannya. Saking nikmat hasil masakan Mister Laota, tak jarang yang menyarankannya untuk membuka restoran sendiri.

Kemudian pada tahun 1998, kapal yang biasa digunakan Mister Laota untuk menangkap ikan tenggelam. Hal itu pratis membuat sumber mata pencahariannya sirna begitu saja. Ia pun memutuskan membuka usaha sendiri dan pilihannya jatuh pada bisnis cafe. Sayangnya dalam waktu beberapa tahun berselang usaha ini gagal dan ditutup.

Mister Laota sendiri sempat merasa tidak percaya diri membuka usaha lagi. Namun berkat keyakinan Jernia sebagai istri yang selalu menguatkannya. Mister Laota kembali bangkit. Kali ini ia yakin akan dapat berkembang, sebab konsep restoran yang menyajikan masakan Hongkong belum jamak pada waktu itu.

Tahun 2002, Warung Laota akhirnya dibuka. Berawal dari sebuah tempat kecil di Tuban, Kuta Selatan. Warung makan ini awalnya hanya menyediakan 4 kursi. Respon pasar yang bagus membuat tempat makan ini menjelma menjadi salah satu restoran yang selalu dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan Jernia dan Sang Suami mampu mengembangkan restoran ini dengan membuka empat cabang.

“Karena saya orang Makasar, maka outlet kedua kami buka di daerah asal saya tersebut. Selanjutnya baru kami buka lagi cabang ketiga dan keempat di Sunset Road dan Jimbaran,” kata Jernia.

Setelah hampir 17 tahun berada di kancah industri pariwisata di Bali, Jernia mengaku saat ini telah dibantu oleh keempat anaknya dalam mengelola usaha. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya regenerasi agar usaha ini tetap eksis. Sehingga para penggemarnya akan terus dapat menikmati cita rasa masakan ala Hongkong tanpa perlu terbang jauh ke negara asalnya.

Tags from the story
, ,
Written By
More from travelife

Ubud Raya Resort – Sinergi Tourism Based Community

Industri pariwisata merupakan pilar utama penyangga perekonomian di Bali. Sayangnya, sebagian besar...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *