Ida Ayu Oka Purnama Wati, SS, MM – Membidik Peluang Medical Tourism

Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang.” Agaknya ungkapan tersebut tidak berlaku bagi mereka yang sedang sakit. Di masa sekarang masyarakat yang sakit mencari pelayanan kesehatan dengan kualitas terbaik, meski pun harus menyeberang ke negeri tetangga, semata-mata demi mendapat penanganan yang optimal dari tenaga kesehatan profesional dengan peralatan yang canggih. Nilai plusnya berobat di luar negeri, bisa sekaligus berplesiran di sana.

Dari fenomena di atas muncul istilah medical tourism. Artinya, perjalanan yang dilakukan seseorang ke luar daerah atau negara tempat tinggalnya untuk mencari perawatan medis. Pasien yang melakukan medical tourism disebut medical tourist. Konsep medical tourism ini telah lama dikembangkan oleh negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan India yang dikenal sebagai negara dengan wisata spiritualnya ternyata tidak kalah sigap mengembangkan medical tourism.

Lantas, bagaimana dengan Bali yang notebene merupakan destinasi wisata primadona di kancah internasional? Menurut Director of Marketing & Business Development Bali Royal Hospital, Ida Ayu Oka Purnama Wati, Bali memiliki potensi yang besar sebagai daerah pengembangan medical tourism di Indonesia. Daya tarik Bali sebagai tempat berplesiran kaum traveler di dunia sudah tidak diragukan lagi. Hanya saja menurut Dayu Oka, masih banyak PR yang mesti diselesaikan jika ingin serius menangkap peluang di sektor yang menggabungkan pelayanan kesehatan dan hospitality tersebut.

Pelopor

Belakangan, medical tourism mampu ditangkap sebagai salah satu fitur penting dalam industri pariwisata, mulailah banyak negara yang berlomba-lomba mengemas medical tourism sebagai salah satu ‘destinasi’ unggulannya. Namun sepertinya, di Indonesia hal ini masih belum serius ditangani. Meski terhitung agak terlambat, Dayu Oka menjelaskan masih ada peluang untuk mengejar ketertinggalan.

Melihat potensi yang besar dari medical tourism, dia mencoba menerapkan konsep tersebut ke dalam rumah sakit yang dikelolanya yaitu Bali Royal Hospital. Sejak awal pendiriannya, Dayu Oka memang sengaja mendesain rumah sakit tersebut agak berbeda dengan konsep RS pada umumnya. Sejalan dengan konsep medical tourism, yaitu mengutamakan mutu pelayanan dan kenyamanan pasien. Desain arsitektur RS dan tata kelola pelayanannya pun hampir sama dengan yang ada di industri hospitality seperti hotel, villa, dan lainnya. BROS menjadi salah satu rumah sakit pertama di Pulau Dewata yang mengusung konsep demikian.

“Diawal berdiri, masyarakat sering salah sangka dan mengira tempat ini adalah hotel, mungkin karena tampilannya ya. Padahal sejatinya rumah sakit”. Pelan tapi pasti rumah sakit ini mulai dikenal masyarakat dengan brand image provider kesehatan yang mengutamakan kenyamanan pasien dan pengunjung lainnya,” ujar Dayu.

Perjuangan Dayu Oka dalam mempelopori pendirian rumah sakit berbasis medical tourism terhitung panjang diiringi dengan berbagai tantangan. Awalnya ia berkarir di dunia pariwisata, tepatnya bekerja di sebuah jaringan hotel Internasional. Pada tahun 2001, bersama kakaknya yang merupakan seorang dokter kandungan beserta sang suami yang seorang arsitek, mengembangkan konsep klinik rawat jalan terpadu yang diberi nama Merdeka Medical Centre (MMC).

Setelah melepaskan karirnya di pariwisata, Dayu menjadi seorang enterpreneur di bidang wedding oragizer sekaligus menjadi Direktur di MMC. Empat tahun setelah mendirikan kliniknya, Dayu mengikuti pameran pariwisata di Suntec City Singapura. Sebenarnya ia berniat memasarkan wedding organizernya, namun ia juga membawa banner MMC di pameran tersebut.

“Salah satu pengunjung stand rupanya seorang dokter dari Mount Elizabeth Hospital Singapore dan tertarik dengan tampilan kliniknya. Sejak itu, Dayu Oka berkomunikasi intens dengan sang dokter dan banyak mendapatkan wawasan tentang peluang medical tourism. Dayu pun berkesempatan mengujungi salah satu rumah sakit di Singapura di mana banyak pasien yang datang dari Indonesia. Ia berkesempatan menanyai beberapa pengunjung rumah sakit, apa alasan mereka datang ke RS yang ada di negeri singa itu.

“Ternyata kedatangan mereka ke sana untuk medical check up. Saya pun heran kenapa melakukan mcu sampai harus ke luar negeri padahal di Indonesia sendiri banyak provider kesehatan yang menyediakan layanan tersebut. Jawaban orang itu, melakukan mcu sekalian berwisata (shopping)”,  kata Dayu mengisahkan pengalamannya.

Dari sanalah, gagasan membuat RS dengan konsep serupa muncul. Kembali dibantu oleh suami dan kakaknya, Dayu pun mendirikan Bali Royal Hospital yang disingkat BROS. Singkatan nama RS tersebut cepat familiar di telinga masyarakat lokal. Pun bagi para WNA, BROS menjadi tujuan berobat karena ketika mereka melakukan penelusuran rumah sakit di situs pencarian dengan kata kunci ‘Bali Hospital’ nama RS tersebut langsung muncul.

Keunggulan Spesifik

Dayu mengakui masih sangat diperlukan promosi mengenai keberadaan medical tourism di Bali. Kendalanya memang dalam pemasaran, sehingga banyak yang belum tahu kalau  sudah ada rumah sakit yang mendukung keberadaan medical tourism di Pulau Dewata. Karena itu Dayu menargetkan segmentasi pasar saat ini masih didominasi dari domestik dan lokal.

Agar bisa mendapat tempat di hati masyarakat, Dayu menawarkan produk unggulan yang menjadi ciri khas keberadaan RS tersebut. “Ketika dalam tahap perencanaan membangun rumah sakit, saya bilang jika kita ingin memenangi persaingan, kita harus punya sesuatu yang berbeda. Kalau tidak bisa buat yang lengkap, paling tidak kita punya produk unggulan”. Nah, kakak saya itu adalah dokter kandungan spesialis bayi tabung. Maka ketika BROS berdiri, kita sudah menetapkan salah satu unggulannya adalah Bayi Tabung, di samping tiga unggulan lainnya yaitu cosmetic surgery, endoscopy center dan neuro science center,” ungkap Dayu.

Dari beberapa produk unggulan yang ditawarkan, memang bayi tabung yang cukup diminati. Terutama dari pasar domestik Indonesia bagian timur. Selain itu, warga Hongkong dan Taiwan cukup banyak yang datang ke Bali untuk melaksanakan program bayi tabung di BROS.

“Harapan saya, agar konsep medical tourism yang kami cita-citakan di awal dapat tercapai dan terus berkembang. Saya optimis, BROS berjalan pelan tapi pasti akan menuju dan mengikuti Akreditasi Internasional, sehingga kepercayaan pasien-pasien asing untuk melakukan medical tourism ke Bali dapat segera terwujud,” ujar Dayu berharap.

Inilah PR bagi semua kalangan untuk menghadirkan medical tourism yang tidak kalah dengan kompetitor di negara ASEAN lainnya. Tugas ini tidak hanya bisa dilakukan oleh satu lembaga saja. Diharapkan para stakeholder dapat memberikan peran signifikan lewat kewenangan membuat kebijakan yang nantinya dapat mendukung Bali sebagai daerah tujuan medical tourism di mata internasional.

Written By
More from travelife

Sambut Asian Games LRT Palembang Resmi Beroperasi

Dalam rangka menyambut Asian Games 2018, Palembang tak main-main dalam menyiapkan kotanya....
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *